AI Buatan Stanford Ini Bisa Prediksi 130 Penyakit dari Pola Tidur Semalam

Senin 09-02-2026,15:20 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Sebuah terobosan di dunia kesehatan lahir dari laboratorium Stanford Medicine. Para peneliti di sana mengembangkan alat berbasis teknologi akal imitasi atau AI yang diklaim mampu membaca risiko berbagai penyakit hanya dari pola tidur seseorang dalam satu malam.

Model kecerdasan buatan itu diberi nama SleepFM. Teknologi ini bekerja dengan menganalisis sinyal fisiologis yang terekam saat seseorang tertidur, kemudian menerjemahkannya menjadi prediksi potensi gangguan kesehatan. 

Yang mengejutkan, sistem tersebut disebut dapat memprediksi hingga 130 jenis penyakit, termasuk kanker, bahkan sebelum gejala apa pun muncul.

Selama ini, tidur kerap dianggap hanya sebagai waktu istirahat tubuh. Namun bagi para ilmuwan, fase tidur justru menyimpan informasi kesehatan yang sangat kaya. Dari detak jantung hingga gelombang otak, semua terekam dalam pola-pola tertentu yang bisa dibaca secara ilmiah.

BACA JUGA:Survei Indikator Ungkap 72,8 Persen Warga Puas Program Makan Bergizi Gratis

Untuk melatih SleepFM, tim Stanford tidak bekerja dengan data kecil. Mereka mengumpulkan hampir 600 ribu jam rekaman polisomnografi yang berasal dari sekitar 65 ribu orang. Polisomnografi adalah pemeriksaan tidur semalaman yang merekam aktivitas otak, jantung, pernapasan, gerakan tubuh, sampai aliran udara.

Metode ini selama ini memang lazim dipakai untuk mendiagnosis gangguan tidur seperti sleep apnea. Tetapi menurut para peneliti, informasi yang dihasilkan sebenarnya jauh lebih luas dari sekadar menilai kualitas tidur.

“Kami merekam jumlah sinyal yang luar biasa banyak saat mempelajari tidur,” kata Emmanuel Mignot, penulis senior penelitian sekaligus profesor kedokteran tidur di Stanford, dikutip dari laporan Earth, 8 Februari 2026.

Ia menjelaskan bahwa proses tidur memberi kesempatan langka bagi ilmuwan untuk mengamati kondisi tubuh manusia secara menyeluruh dalam keadaan relatif stabil.

BACA JUGA:Menkomdigi Ingatkan Bahaya Kerja Sama Media dengan Perusahaan AI

“Ini semacam fisiologi umum yang kami pelajari selama delapan jam pada subjek yang benar-benar ‘terkunci’ di tempat. Datanya sangat kaya,” tuturnya melanjutkan.

Menurut Mignot, justru karena datanya sangat kompleks itulah analisis konvensional sering kesulitan menggali seluruh informasi penting di dalamnya.

Kategori :