“Guru-guru kita, kiai-kiai kita, leluhur kita mengajarkan selalu ‘mikul dhuwur, mendhem jero’. Tidak boleh ada rasa benci, tidak boleh ada rasa dendam. Berbeda tidak masalah. Sesudah berbeda, cari persatuan, cari kesamaan, musyawarah untuk mufakat. Itu kepribadian bangsa Indonesia,” ujar Prabowo.
BACA JUGA:Tragedi Keluarga di Dompu, Ayah dengan Gangguan Kejiwaan Cekik Anak Kandung hingga Tewas
Pesan itu menjadi penutup pidatonya di hadapan ribuan warga Nahdlatul Ulama yang hadir. Bagi Prabowo, tradisi musyawarah dan saling menghormati merupakan kekuatan utama Indonesia sebagai bangsa besar.
Ajakan Presiden itu sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah dinamika politik yang sering memanas, persatuan tetap harus ditempatkan di atas segalanya. Tanpa kerukunan, tidak akan ada perdamaian. Tanpa perdamaian, kemajuan bangsa hanya akan menjadi angan-angan.