Indonesia Ranking 2 Kasus TBC Terbanyak di Dunia, Prabowo Panggil Wamenkes ke Istana

Selasa 03-02-2026,08:17 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Presiden RI Prabowo Subianto memanggil Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus ke Istana Negara, Jakarta, Senin 2 Februari 2026. Pertemuan itu membahas perkembangan terbaru penanganan Tuberkulosis di Indonesia.

Benjamin mengatakan Presiden ingin mendapatkan gambaran langsung mengenai upaya pemberantasan TBC yang sedang dijalankan Kementerian Kesehatan. Prabowo juga menanyakan peran dan tanggung jawab yang kini diembannya di kementerian tersebut.

"Ya tentu bahas kesehatan. Untuk bagaimana beliau tanya bagaimana saya tugas sebagai di Kementerian Kesehatan. Ya, saya jelaskan tugas-tugas saya. Pertama, untuk bagaimana pemberantasan Tuberkulosis bisa lebih baik," kata Benjamin di kompleks Istana.

Menurut Benjamin, penanganan TBC menjadi perhatian utama Presiden karena masuk dalam program percepatan pemerintahan Prabowo bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Program itu diposisikan sejajar dengan kebijakan Makan Bergizi Gratis.

"Kan quick win daripada pemerintahan dari Pak Prabowo dan Pak Gibran kan adalah bagaimana penanganan kasus Tuberkulosis merupakan program utama daripada ini selain Makan Bergizi Gratis," ujar dia.

BACA JUGA:Jawaban Berubah-ubah, Pedagang Es Gabus yang Viral Difitnah Aparat Ternyata Idap Gangguan Mental

Sebagai dokter spesialis paru, Benjamin menyebut Prabowo meminta masukan langsung darinya terkait strategi menekan angka penularan TBC. Permintaan itu muncul di tengah fakta bahwa Indonesia masih menempati peringkat kedua kasus TBC tertinggi di dunia.

Benjamin mengatakan Presiden berharap jumlah kasus TBC dapat ditekan secara signifikan selama masa pemerintahannya. Ia pun menjelaskan berbagai langkah yang sudah ditempuh dalam beberapa bulan terakhir.

"Maka saya pun juga dalam waktu 120 hari ini saya sudah keliling di 12 provinsi dengan semua pimpinan daerahnya menyosialisasikan program ini. Karena sebetulnya penanganan TB itu kayak Covid lah. Kalau diserbu habis, virusnya dimatikan kalau Covid, kalau TB Mycobacterium Tuberculosis-nya dihabiskan," papar dia.

Menurut Benjamin, kunci pengendalian TBC terletak pada pemutusan rantai penularan. Selama bakteri penyebab penyakit itu masih ada, risiko penularan tetap tinggi di masyarakat.

"Ya, di Indonesia kalau sudah tidak ada kuman TB kan tidak menular. Nah, selama kumannya ada ya menulari kita," lanjutnya.

BACA JUGA:Pigai Sesumbar Rekor Dunia, Sebut Prabowo Cetak Sejarah di PBB

Ia juga mempertanyakan arah pembangunan nasional jika persoalan TBC belum mampu ditangani secara serius. Dengan beban kasus yang besar, Indonesia dinilai sulit melangkah sebagai negara maju.

Benjamin menegaskan Presiden meminta Kementerian Kesehatan memberi perhatian penuh pada penanganan TBC. Fokus itu tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan bersamaan dengan program kesehatan lain yang sedang digencarkan pemerintah.

Selain urusan TBC, Benjamin mengatakan dirinya juga mendapat mandat untuk mengawasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. Presiden ingin memastikan program tersebut tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga berdampak langsung pada penurunan stunting di lapangan.

Kategori :