Demam Tinggi Bisa Jadi Gejala Virus Nipah? Begini Penjelasan Epidemiolog

Jumat 30-01-2026,23:49 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Kementerian Kesehatan menegaskan sampai saat ini Indonesia belum mencatat adanya kasus virus Nipah. Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena virus tersebut tergolong penyakit menular dari hewan ke manusia dengan tingkat kematian yang tinggi.

Virus Nipah termasuk penyakit zoonotik yang berpotensi menyebar melalui makanan atau kontak dengan hewan terinfeksi. Hingga kini, belum ada vaksin maupun obat khusus untuk mengatasinya, sehingga upaya pencegahan menjadi kunci utama pengendalian.

Asal-usul virus Nipah

Epidemiolog Griffith University Australia, Dr. Dicky Budiman, menjelaskan bahwa virus Nipah berasal dari hewan. Inang alaminya adalah kelelawar buah dari genus Pteropus.

“Reservoir alaminya adalah kelelawar buah dari genus Pteropus,” kata Dicky saat dihubungi, Rabu 28 Januari 2026.

Ia menuturkan, virus Nipah tidak dapat bertahan hidup di luar tubuh makhluk hidup. Dengan kata lain, penularan hanya terjadi ketika virus masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan lain yang menjadi perantara.

BACA JUGA:IHSG Ambruk hingga Trading Halt, Menkeu Tegaskan Ini Bukan Krisis

Jalur penularan ke manusia

Menurut Dicky, penularan ke manusia paling sering terjadi secara tidak langsung melalui paparan dari kelelawar buah. Salah satu jalurnya adalah konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi air liur maupun urine kelelawar.

“Penularan umumnya melalui konsumsi buah atau produk pangan yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar,” jelasnya.

Selain itu, hewan ternak seperti babi juga dapat berperan sebagai perantara. Hewan tersebut bisa terinfeksi setelah kontak dengan kelelawar, lalu menularkan virus kepada manusia yang memelihara, menangani, atau mengonsumsi produknya tanpa pengolahan yang aman.

Kementerian Kesehatan juga menyoroti konsumsi nira atau air aren mentah sebagai faktor risiko. Cairan ini rentan terpapar kelelawar jika dikumpulkan tanpa perlindungan.

Risiko penularan antar manusia

Meski tidak dominan, penularan antarmanusia tetap mungkin terjadi. Risiko muncul ketika ada kontak erat dengan penderita, terutama melalui cairan tubuh seperti air liur atau droplet pernapasan.

BACA JUGA:Waduh! Jelang Mudik, Harga Tiket Bus AKAP Melonjak hingga 50 Persen

Kategori :