JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Internet modern lekat dengan satu gangguan yang nyaris universal. Jendela kecil yang tiba-tiba muncul, menutup layar, dan memaksa pengguna menutupnya sebelum bisa kembali membaca atau menonton. Iklan pop-up menjadi simbol pengalaman buruk berselancar di dunia maya sejak akhir 1990-an.
Keberadaannya bukan hanya mengganggu, tetapi juga kerap menjerumuskan pengguna ke laman yang tidak diinginkan. Dalam banyak kasus, pop-up mengarah ke situs berisiko, termasuk perjudian daring dan konten ilegal. Dari sinilah reputasi buruk iklan pop-up terbentuk dan bertahan hingga kini.
Namun, di balik kemunculan fitur yang dibenci itu, ada kisah penyesalan dari penciptanya sendiri. Ethan Zuckerman, tokoh yang menulis kode pertama iklan pop-up, secara terbuka mengakui kesalahannya. Ia menyebut temuannya sebagai salah satu kesalahan terbesar dalam sejarah internet.
Pengakuan tersebut ia tuangkan dalam esai panjang berjudul The Internet’s Original Sin yang terbit pada 2014. Dalam tulisan itu, Zuckerman tidak berusaha membela diri. Ia justru mengakui perannya secara gamblang.
"Pada akhirnya, kami malah menciptakan salah satu alat yang paling dibenci dalam dunia periklanan, yaitu iklan pop-up," tulisnya.
BACA JUGA:Awalnya Hanya Sariawan, Penyakit Istri Pesulap Merah Berujung Kematian
Ia melanjutkan dengan pengakuan yang lebih personal. “Sayalah yang menulis kode untuk membuka jendela dan menjalankan iklan di dalamnya. Saya minta maaf. Niat kami sebenarnya baik.”
Latar belakang lahirnya pop-up bermula dari situasi industri internet di akhir 1990-an. Saat itu, Zuckerman bekerja di Tripod.com, sebuah platform yang menyediakan layanan pembuatan halaman pribadi. Layanan ini populer di kalangan mahasiswa dan pengguna internet generasi awal.
Pada masa itu, Tripod belum mengandalkan iklan sebagai sumber utama pendapatan. Perusahaan mencoba berbagai pendekatan bisnis, mulai dari sistem berlangganan hingga penjualan produk dan kerja sama penerbitan. Namun, semua upaya itu tidak cukup menopang operasional perusahaan.
Tekanan bisnis akhirnya membuat iklan menjadi satu-satunya pilihan realistis. Masalah baru pun muncul ketika pengiklan besar mulai merasa khawatir.
Salah satu perusahaan otomotif memprotes karena iklannya muncul di halaman pengguna yang memuat konten dewasa. Kekhawatiran soal citra merek pun tak terhindarkan.
BACA JUGA:Viral di Threads, Teman Serumah Bongkar Kondisi Kamar Wanita yang Bikin Ngeri
Dari situ, tim Tripod mencari cara agar iklan tetap bisa tayang tanpa terlihat melekat pada isi halaman. Solusi yang dipilih adalah menampilkan iklan dalam jendela terpisah yang muncul di atas layar pengguna. Cara ini dianggap aman karena iklan tidak lagi berdampingan langsung dengan konten pemilik situs.
Zuckerman kemudian menulis kode yang memungkinkan jendela tersebut terbuka otomatis. Tanpa disadari, keputusan teknis itu melahirkan format iklan baru yang kelak menyebar luas ke seluruh internet.
Dalam perkembangannya, pop-up bukan hanya menjadi gangguan visual. Teknologi ini turut membuka jalan bagi praktik pelacakan perilaku pengguna.