Selain itu, ia menilai pemulihan nama baik korban harus menjadi perhatian utama. Tuduhan yang tidak terbukti telah berdampak pada kehidupan Suderajat, baik secara ekonomi maupun psikologis.
“Harus ada bentuk tanggung jawab negara atas perbuatan oknum aparat yang melanggar ketentuan hukum. Ini penting untuk memulihkan harkat dan martabat Pak Suderajat sebagai warga negara,” katanya.
Abdullah juga mengingatkan aparat negara, khususnya Polri dan TNI, agar tidak bersikap arogan dalam menjalankan tugas. Ia menekankan bahwa peran Bhabinkamtibmas dan Babinsa adalah menjaga ketertiban serta membangun rasa aman di tengah masyarakat.
Menurutnya, peningkatan pemahaman hukum, hak asasi manusia, dan etika pelayanan publik perlu terus dilakukan, terutama bagi aparat yang bersentuhan langsung dengan warga.
“Peningkatan kapasitas dan pemahaman hukum aparat di tingkat bawah sangat penting agar kehadiran negara benar-benar menjadi pelindung, bukan justru menakutkan rakyat,” ujar Abdullah.
Sementara itu, Suderajat mengaku mengalami kekerasan saat peristiwa tersebut terjadi. Ia mengatakan diperlakukan kasar meski telah menjelaskan bahwa es yang dijualnya aman dikonsumsi.
"Begini, dia (aparat) beli es kue (es gabus). Kata polisi, 'Bang es kue, Bang, beli empat.' Terus dibejek-bejek, terus dilempar kena saya es kuenya," kata Suderajat.
BACA JUGA:Rumah Jadi Bau Pasca Banjir? Yuk Gunakan 7 Bahan Tradisional Ini Dijamin Aroma Lumpur Jadi Hilang
Ia mengaku peristiwa itu disaksikan sejumlah orang, termasuk aparat lingkungan setempat. Namun situasi justru memburuk.
"Saya ditonjok, ditendang pakai sepatu bot (boots). Ditendang. Saya sampai terpental ditendang. Enggak ada minta maaf sama sekali semuanya, enggak ada," tuturnya.
Suderajat mengatakan dirinya sempat dipaksa berdiri dengan satu kaki. Perlakuan tersebut membuatnya trauma dan takut kembali berjualan di kawasan Kemayoran.