Ia menjelaskan, keberadaan kata kasar dalam KBBI justru memiliki nilai edukatif. Melalui penandaan khusus, pengguna bahasa dapat mengetahui bahwa kata tersebut tidak pantas digunakan sembarangan.
“Justru menurut kami itu kata kasar mendidik karena kami di KBBI memberi label khusus. Jadi kalau kata-kata yang ada label kas, hati-hati menggunakan kata-kata itu termasuk ragam kasar,” ucapnya.
Dengan cara itu, masyarakat bisa memahami batasan pemakaian bahasa secara lebih sadar dan bertanggung jawab.
Perlu ubah cara pandang
Dora berharap masyarakat tidak lagi melihat KBBI semata-mata sebagai daftar kata baku. Menurut dia, kamus besar harus mencerminkan kekayaan bahasa Indonesia secara utuh, termasuk variasi dan pergeserannya.
BACA JUGA:Awas! Sering Panaskan Sisa Makanan? Ahli Gizi Peringatkan Bahaya yang Mengintai Kesehatan
Ia menilai, bila KBBI hanya memuat kata yang dianggap baik, fungsi kamus justru menjadi sempit.
“Jadi seperti itu mungkin perspektifnya harus diubah. Karena kalau hanya memasukkan kata yang bagus-bagus saja, tidak jadi kamus besar. Jadi kamus kecil dan pencampuran,” ujar Dora.
Menurut dia, keberagaman entri dalam KBBI menjadi bukti bahwa bahasa Indonesia terus berkembang dan hidup mengikuti dinamika masyarakat.