POSTINGNEWS.ID --- Warga Pandeglang, khususnya di wilayah selatan, lagi diuji banget nih. Sudah hampir sepekan air merendam pemukiman, tapi kok Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang belum juga ketuk palu soal status Tanggap Darurat? Fenomena ini pun langsung jadi obrolan hangat di kalangan publik.
Menanggapi hal itu, Pemkab Pandeglang akhirnya buka suara. Ternyata, urusan menetapkan status darurat itu nggak segampang membalikkan telapak tangan, Guys. Ada prosedur dan birokrasi yang harus dilewati.
BACA JUGA:Momen Apes Sopir Terjebak Banjir, Dipotong Gaji Gegara Es Batu Mencair
Nggak Bisa Asal "Ketuk Palu"
Wakil Bupati Pandeglang, Iing Andri Supriadi, ngejelasin kalau keputusan buat menaikkan status jadi tanggap darurat itu harus lewat obrolan panjang lintas lembaga. Jadi, Pemkab nggak bisa mutusin sendirian tanpa "restu" dari instansi lain.
"Terkait status tanggap darurat banjir, tentu akan kami rapatkan. Ini harus dikoordinasikan dan dimusyawarahkan dengan Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah)," kata Iing pada Sabtu, 17 Januari 2026. Jadi, kuncinya ada di rapat bareng kepolisian, TNI, dan unsur pimpinan daerah lainnya.
BACA JUGA:Prabowo Curhat di Lokasi Banjir: Menteri Datang Disalahkan, Tak Datang Dibilang Tak Peduli
Belum Darurat Bukan Berarti "AFK"
Meski status resminya belum keluar, Iing mastiin kalau pemerintah nggak lagi AFK alias diam aja. Tim di lapangan diklaim terus bergerak buat jagain warga yang terdampak.
Logistik Jalan Terus: Bantuan kayak beras, mie instan, dan telur mulai disebar ke titik-titik banjir.
Dapur Umum Aktif: Buat urusan perut, dapur umum masih terus ngebul buat nyediain konsumsi warga.
PR Air Bersih: Nah, ini yang paling krusial. Pemkab ngaku lagi muter otak cari cara tercepat buat kirim air bersih ke lokasi, baik lewat mobil tangki atau air kemasan.
BACA JUGA:Licik! Ini Cara Kadis Sosial Samosir Korupsi Bansos Banjir Sebesar Rp 1,5 Miliar
Masalah Klasik: Sungai yang Butuh "Skin" Baru
Banjir di Pandeglang Selatan ini emang penyakit tahunan yang nggak kelar-kelar. Iing membeberkan kalau masalah utamanya ada di Sungai Ciliman dan Cilemer. Kondisinya sekarang makin memprihatinkan karena mengalami pendangkalan dan penyempitan (sedimentasi).
Begitu hujan deras turun, sungai-sungai ini nggak kuat lagi nampung debit air yang membludak. Solusi permanennya? Ya cuma satu: Normalisasi Sungai. Pemkab menilai pengerukan sungai harus segera dilakukan biar warga nggak perlu langganan banjir tiap tahunnya.
Kesimpulan:
Warga diminta tetap waspada karena cuaca masih belum stabil. Sambil nunggu hasil rapat Forkopimda soal status darurat, pastikan lo dan keluarga tetap berada di tempat yang aman ya!