JAKARTA, PostingNews.id — Tahun 2026 telah tiba Ia masuk lewat denting jam yang lewat tengah malam, lewat sorak kecil di ruang tamu, lewat kembang api yang meledak sebentar lalu lenyap. Bagi banyak orang, tanggal 1 Januari selalu terasa seperti tombol reset. Hari di mana resolusi ditulis ulang, janji pada diri sendiri diperbarui, dan kalender dibuka pada halaman yang masih bersih.
Di seluruh dunia, momen ini dirayakan serempak. Seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa inilah garis start bersama untuk menjalani 365 hari ke depan. Namun di balik terompet plastik dan hitung mundur yang meriah, 1 Januari menyimpan cerita yang jauh lebih tua dan lebih ruwet dari sekadar pesta pergantian tahun.
Tanggal ini bukan hadiah alam. Ia lahir dari perdebatan panjang tentang waktu, dari ritual keagamaan, keputusan politik, hingga hitung-hitungan astronomi yang sempat membuat manusia tersesat di kalendernya sendiri. Selama ribuan tahun, manusia tidak pernah sepakat soal kapan sebuah tahun seharusnya dimulai.
Jejaknya bisa ditarik jauh ke masa lalu. Masyarakat Mesolitikum di Inggris membaca fase bulan untuk menandai waktu. Bangsa Mesir kuno lebih percaya pada matahari. Sementara itu, Romawi kuno bahkan tidak mengenal Januari pada awal kalender mereka. Tahun mereka bermula di bulan Maret, saat musim tanam dimulai, dan berakhir di Desember, masa panen. Setelah itu, musim dingin dibiarkan kosong tanpa nama, dianggap tak penting karena ladang sedang tidur.
BACA JUGA:Regulasi Lama Diganti, Dosen Kini Dapat Kepastian Status dan Penghasilan
Perubahan mulai terasa pada abad ketujuh sebelum masehi, ketika Raja Numa Pompilius mencoba merapikan kekacauan waktu. Ia menambahkan 50 hari ke kalender Romawi dan mengambil satu hari dari setiap bulan untuk menciptakan dua bulan baru, Januari dan Februari. Januari diambil dari nama Janus, dewa bermuka dua yang menghadap masa lalu dan masa depan, simbol yang pas untuk sebuah permulaan.
Namun upaya itu belum menyelesaikan masalah. Kalender lunar Romawi sering tak sejalan dengan musim. Orang Romawi percaya angka ganjil membawa keberuntungan, sehingga jumlah hari sengaja dibuat ganjil. Februari dibiarkan genap karena dianggap sial. Ketika musim mulai bergeser, para pendeta menyisipkan bulan tambahan bernama Mercedonius. Masalahnya, penyisipan ini kerap dilakukan sesuka hati. Kalender pun jadi alat politik, bukan lagi penunjuk waktu yang netral.
Kekacauan itu mencapai titik kritis pada abad pertama sebelum masehi. Pada tahun 46 SM, Julius Caesar memutuskan turun tangan. Dengan saran astronom Sosigenes dari Alexandria, ia memperkenalkan sistem baru yang kemudian dikenal sebagai Kalender Julian. “Caesar menetapkan 365 hari dengan tambahan satu hari kabisat setiap empat tahun,” tulis laporan tersebut. Ia juga membuat keputusan penting lain yang kelak mengubah dunia. Awal tahun ditetapkan pada 1 Januari, bertepatan dengan hari pelantikan para konsul Romawi.
Keputusan ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya panjang. Meski Kalender Julian sudah menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun, praktik di lapangan tidak langsung seragam. Selama Abad Pertengahan, banyak komunitas Kristen lebih memilih memulai tahun pada hari besar keagamaan. Ada yang merayakannya saat Natal, ada pula yang memilih ekuinoks musim semi. Akibatnya, urusan administrasi sering kacau. Tahun bisa dimulai pada tanggal berbeda tergantung wilayah.
BACA JUGA:Jakarta Salip Tokyo, Kini Jadi Kota Terbesar Kedua di Dunia
Kebingungan ini akhirnya dipangkas pada abad ke-16. Pada 1582, Paus Gregorius XIII memperkenalkan Kalender Gregorian. Ia mengoreksi hitungan tahun dari 365,25 hari menjadi 365,2425 hari untuk menghentikan pergeseran musim yang makin menjauh. Dengan reformasi ini, 1 Januari dipatenkan sebagai awal tahun bagi sebagian besar dunia.
Meski kini menjadi standar global, cara manusia menyambut tahun baru tetap beragam. Bangsa Mesopotamia kuno merayakan Akitu selama 12 hari saat ekuinoks musim semi. Orang Yunani kuno berpesta di sekitar titik balik matahari musim dingin pada akhir Desember. Sejarawan Romawi Censorius mencatat bahwa bangsa Mesir kuno memulai tahun baru pada 20 Juli.
Hingga hari ini, keragaman itu masih hidup. Afghanistan, Ethiopia, Iran, Nepal, dan Arab Saudi tetap setia pada kalender mereka sendiri. Tradisi keagamaan pun punya irama berbeda. Kalender Yahudi merayakan Rosh Hashanah antara September dan Oktober. Tahun Baru Imlek jatuh di antara akhir Januari dan pertengahan Februari. Kalender Islam bergerak dinamis mengikuti bulan. Tahun Baru Hijriah pernah jatuh pada 29 Desember 2008, lalu bergeser jauh ke 22 September pada 2017.
Di balik semua perbedaan itu, ada satu benang merah yang tak berubah. Setiap perayaan tahun baru, di tanggal berapa pun ia jatuh, selalu membawa harapan yang sama. Harapan bahwa esok bisa lebih baik dari kemarin. Bahwa waktu, sekeras apa pun sejarahnya, tetap memberi manusia kesempatan untuk memulai lagi.