Pangalengan Mendadak Botak, Dedi Mulyadi Tegur PTPN Jangan Coba-coba Main Alih Fungsi Lahan

Minggu 30-11-2025,19:43 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tampaknya sudah kehilangan kesabaran melihat kebun teh yang dulu rapi dan hijau kini berubah menjadi ladang sayuran dadakan. Ia meminta PT Perkebunan Nusantara kembali ingat fungsi dasar mereka, sebab penebangan jutaan pohon teh di Pangalengan membuat para pemetik teh turun ke jalan dan berdiri di depan Pabrik Teh Malabar untuk menagih kejelasan nasib mereka. 

Hari Selasa, 25 November 2025 itu, kebun yang biasanya jadi sumber hidup mereka mendadak gundul dan penuh cangkul yang bukan milik petani teh. Ratusan hektare lahan dikabarkan sudah berubah wajah, dengan catatan polisi menyebut 150 hektare di antaranya rusak dan dialihfungsikan. Dedi menanggapi insiden tersebut sambil menunjuk langsung arah masalahnya dalam sebuah unggahan video. 

“Saya meminta kepada jajaran PTPN hentikan berbagai kegiatan yang mengalihfungsikan lahan. Menyewakan area lahan PTPN ke berbagai pihak yang peruntukannya bukan untuk kepentingan perkebunan,” ucapnya dalam keterangannya melalui video singkat di akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71, Ahad, 30 November 2025.

Menurut Dedi, kesalahan bukan hanya pada yang menebang, tetapi juga pada mereka yang seharusnya menjaga. Ia mengingatkan bahwa direksi PTPN mestinya fokus pada perkebunan, bukan tiba-tiba ingin jadi pemain properti.

BACA JUGA:Para Kiai Sepuh Turun Gunung, PBNU Diminta Stop Drama dan Kembali Adem

“Kalau menjadi pimpinan PTPN, jajaran direksi PTPN, maka usahanya di bidang perkebunan bukan di bidang properti, bukan di bidang-bidang lainnya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip pengelolaan lahan,” ujarnya.

Dedi tidak ingin kebun teh dibiarkan botak tanpa tindakan. Ia mendesak agar lahan Pangalengan dikembalikan ke fungsi aslinya. “Kembalikan area-area perkebunan teh dan karet menjadi teh dan karet, jangan dibiarkan kosong,” kata Dedi. Ia mengajak semua pihak mengingat daun teh bukan hanya komoditas, tapi juga mata pencaharian. 

Menanam kembali, katanya, bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal sandang hidup. “Mari bekerja sama hijaukan kembali area perkebunan di Jabar sesuai dengan jenis tanaman yang layak untuk lingkungannya dan melibatkan masyarakat untuk menjadi pekerja atau pengelola atau penggarap agar mendapat upah yang layak,” tutur Dedi.

Kalimatnya sederhana, tapi pesannya jelas: kebun teh bukan periuk eksperimen bisnis, dan masa depan petani tak boleh ditebus dengan sayuran musiman.

Kategori :