Status Darurat Belum Juga Turun, Prabowo Pilih Pantau Banjir Dulu

Sabtu 29-11-2025,08:00 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Presiden Prabowo Subianto akhirnya menanggapi desakan publik ihwal penetapan status darurat bencana nasional, setelah banjir dan longsor terus menghantam sejumlah wilayah. Namun alih-alih langsung mengetuk palu, Kepala Negara memilih posisi rem tangan setengah tarik.

Prabowo menyebut pemerintah masih berkutat pada dua agenda besar yang terdengar sederhana namun berat di lapangan, yakni memantau situasi dan mengirim bantuan secepat mungkin.

Sikap ini disampaikan usai menghadiri Pertemuan Tahunan Bank Indonesia pada Jumat malam, 28 November 2025. Ketika wartawan meminta kepastian mengenai status bencana, Prabowo tak terjebak desakan. Jawabannya konsisten dari awal hingga akhir, mengindikasikan pemikiran bahwa kebijakan harus matang sebelum diumumkan.

“Kita terus monitor dan kirim bantuan terus, nanti kita menilai kondisinya. Bantuannya akan kita kirim terus menerus,” kata Prabowo. 

BACA JUGA:58 Kampus UIN dan Pesantren di RI Disiapkan untuk Anak Palestina

Ketika dipertegas kembali, nada jawabannya tak berubah meski pertanyaannya sudah naik tensi. “Nanti kita monitor terus,” ucapnya, seolah memberi pesan bahwa pemerintah memilih bergerak dulu baru bicara besar.

Sebelumnya, Prabowo sudah menjelaskan bahwa pemerintah tidak menunggu banjir surut untuk bekerja. Menurutnya, negara sudah turun arena sejak hari pertama, mengerahkan jalur darat dan udara agar bantuan tidak menunggu cuaca baik dulu untuk mendarat.

“Pemerintah bergerak cepat, kita dari hari-hari pertama sudah bereaksi, sudah mengirim bantuan dan reaksi melalui jalur darat dan udara. Tetapi memang kondisinya sangat berat, banyak yang terputus, cuaca juga masih tidak memungkinkan. Kadang-kadang juga helikopter dan pesawat kita sulit untuk mendarat. Tadi pagi kita telah berangkatkan 3 pesawat Hercules C-130 dan 1 pesawat A-400. Untuk kesekian kalinya kita kirim bantuan dan terus-menerus kebutuhan mereka di lapangan kita dukung,” tutur Prabowo dalam sambutannya pada Puncak Peringatan Hari Guru 2025.

Namun penjelasan tersebut juga menggambarkan kenyataan pahit. Infrastruktur banyak yang rubuh, cuaca murung berkepanjangan, hingga helikopter pun menyerah dan enggan turun. Dengan kondisi ini, pengiriman bantuan tidak selalu mulus seperti outline rapat kabinet.

BACA JUGA:Menkeu Ancam Bekukan Bea Cukai jika Tak Berbenah, Ribuan Pegawai Terancam Dirumahkan

Tak berhenti di situ, Prabowo mengaitkan bencana yang terus berulang dengan urgensi menjaga bumi. Baginya, banjir tak turun sendirian, tetapi membawa pesan ekologis yang sudah lama diabaikan. Ia mendorong agar isu lingkungan tak hanya jadi seruan seremoni hari pohon, melainkan masuk ke kurikulum sekolah sejak dini.

“Ini juga mengingatkan kita bahwa dunia penuh dengan tantangan. Perubahan iklim, pemanasan global, kerusakan lingkungan, ini menjadi tantangan yang harus kita hadapi. Ini juga saya kira mungkin para guru-guru di seluruh Indonesia yang sudah bisa mulai. Saya yakin sudah mulai, tapi mungkin perlu kita tambah dalam silabus, dalam mata pelajaran, juga kesadaran akan sangat pentingnya kita menjaga lingkungan alam kita, menjaga hutan-hutan kita,” ujar Prabowo.

Ia menutup dengan ajakan yang jauh lebih sederhana dari gagasan kebijakan pemerintah, namun justru paling sulit dijalankan di dunia nyata. Menurut Prabowo, aksi lingkungan harus diturunkan sampai tingkat rumah, satu-satu, tidak menunggu instruksi menteri.

“Benar-benar mencegah pembabatan pohon-pohon, perusakan hutan-hutan. Benar-benar juga sungai-sungai harus kita jaga agar bersih sehingga dapat menyalurkan air yang bisa tiba-tiba datang. Saudara-saudara ini nanti usaha bersama kita, tiap rumah ikut berperan,” kata Prabowo.

BACA JUGA:Rekrutmen CPNS Era Lama Dibongkar Eks Menpan-RB, Yang Pintar Belum Tentu Menang Dari yang Punya Titipan

Kategori :