Banner Internal

Harga Sembako Bikin Gerah, Kepuasan ke Prabowo Mulai Retak Meski Masih di Atas 59 Persen

Harga Sembako Bikin Gerah, Kepuasan ke Prabowo Mulai Retak Meski Masih di Atas 59 Persen

Kepuasan publik terhadap Prabowo masih 59,75 persen, namun mulai tergerus akibat kenaikan harga sembako, pengangguran, dan pelemahan ekonomi.-Foto: Antara-

JAKARTA, PostingNews.id — Presiden Prabowo Subianto masih mendapat rapor positif dari mayoritas masyarakat. Namun, di balik angka kepuasan yang masih berada di kisaran 60 persen, muncul sinyal yang tak bisa diabaikan. Ekonomi rumah tangga tampaknya mulai menjadi batu sandungan yang menggerus tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah.

Hasil survei Indopol Survey menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap Presiden Prabowo berada di angka 59,75 persen. Meski masih tergolong mayoritas, angka tersebut disebut mengalami kecenderungan penurunan dibandingkan hasil survei beberapa bulan sebelumnya.

Direktur Eksekutif Indopol Survey, Ratno Sulistiyanto, mengatakan tren pelemahan itu terutama dipicu oleh persoalan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Di data kami, kalau dibandingkan dengan beberapa temuan survei sekitar empat bulan sebelumnya, angka ini memiliki kecenderungan turun,” kata Ratno dalam pemaparan hasil survei, Selasa, 9 Juni 2026.

Ketika responden diminta menjelaskan alasan ketidakpuasan mereka terhadap kinerja Prabowo, jawaban yang paling banyak muncul bukan soal politik, kabinet, atau komunikasi pemerintah. Keluhan terbesar justru datang dari dapur rumah tangga.

Sebanyak 34,14 persen responden yang tidak puas menyebut kenaikan harga kebutuhan pokok sebagai penyebab utama. Keluhan berikutnya adalah minimnya lapangan pekerjaan dan tingginya angka pengangguran, terutama di kalangan anak muda, yang disebut oleh 15,76 persen responden.

BACA JUGA:Polisi Bisa Masuk Kursi Sipil Tanpa Pensiun, DPR Buka Gerbang Lebar, Reformasi Tinggal Pajangan?

Sementara itu, 6,46 persen responden menilai kebijakan ekonomi pemerintah lebih berpihak kepada pengusaha dibanding masyarakat luas. Adapun 5,85 persen responden mengaku kondisi ekonomi keluarganya belum menunjukkan perbaikan.

Temuan itu sejalan dengan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional. Sebanyak 48,21 persen responden menilai keadaan ekonomi Indonesia saat ini biasa saja. Hanya 16,1 persen yang menilai ekonomi nasional dalam kondisi baik, sedangkan 35,69 persen menganggap situasinya buruk.

Kondisi serupa juga tergambar di tingkat rumah tangga. Hampir separuh responden, atau 49,51 persen, mengatakan kondisi ekonomi keluarga mereka tidak mengalami perubahan dibandingkan setahun lalu. Sebagian lainnya bahkan merasa keadaan ekonomi rumah tangganya memburuk.

Tekanan ekonomi juga dirasakan dari pelemahan nilai tukar rupiah. Sebanyak 18,21 persen responden mengaku dampaknya sangat besar terhadap kehidupan mereka. Sementara 30,65 persen lainnya menilai pelemahan rupiah cukup memengaruhi kondisi ekonomi keluarga.

Isu harga bahan bakar minyak juga masih menjadi perhatian. Survei mencatat 53,5 persen responden merasa kenaikan harga BBM berdampak besar terhadap perekonomian mereka. Bahkan, 77,8 persen responden menyatakan tidak setuju apabila harga BBM dinaikkan.

BACA JUGA:Rupiah Nyaris Rp18 Ribu per Dolar, Mahasiswa Kasih Prabowo Deadline 18 Hari atau Reformasi Jilid 2 Meledak

Pengamat ekonomi Yanuar Rizky menilai hasil survei tersebut menunjukkan bahwa urusan ekonomi masih menjadi faktor paling menentukan dalam membentuk persepsi publik terhadap pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share
Seedbacklink affiliate

Berita Terkait