Bikin Konten Saja Tak Cukup, Ini 5 Strategi Jitu Agar Media Sosial Bisa Jadi Ladang Cuan

Senin 07-09-2026,13:49 WIB
Reporter : Alvin Septian
Editor : Alvin Septian

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID -- Media sosial kini bukan cuma tempat berbagi foto, video, atau aktivitas sehari-hari. Jika dikelola dengan tepat, platform digital juga bisa menjadi ladang penghasilan yang cukup menjanjikan.

Salah satu cara yang banyak dilakukan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan cuan dari media sosial adalah dengan membuat konten yang menarik, unik, dan kreatif.

Konten bisa dibilang menjadi jantung dari aktivitas media sosial. Namun, konten yang bagus saja belum tentu langsung menghasilkan uang. Dibutuhkan konsistensi, strategi, serta ekosistem yang tepat agar konten bisa berkembang dan memiliki nilai komersial.

Karena itu, Jessica Gautama, Chief Marketing Officer SCGI Agency, membagikan sejumlah insight mengenai cara mencari uang dari media sosial. Menurutnya, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, mulai dari menentukan konsep konten hingga mengoptimalkan data.

BACA JUGA:Masih Eksis di Tengah Gempuran Kuliner Modern, Ini 10 Makanan Tradisional yang Wajib Dicoba

Berikut lima hal yang bisa menjadi perhatian sebelum membuat dan memonetisasi konten di media sosial:

1. Relevance, Hook dan Value

Menurut Jessica, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan di awal pembuatan konten. Tiga hal tersebut adalah; relevance, hook dan value. 

“Kita harus memahami dulu apa yang sedang dibicarakan, dirasakan atau menjadi point audiens. Setelah itu baru diterjemahkan menjadi hook yang kuat dan format yang sesuai dengan behavior di platform tersebut,” kata Jessica kepada media, belum lama ini. 

Meski harus mengikuti dan menangkap peluang, tapi jangan berhenti di tren. Konten yang kuat justru ketika creator punya sudut pandang dan karakter yang konsisten. Sehingga, audiens punya alasan untuk kembali.

BACA JUGA:Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau, DLH DKI Minta Warga Pantau Informasi Resmi

2. Pilih Segmen/Audiens Potensial

Menentukan audiens tak hanya berdasarkan demografi seperti umur, gender atau lokasi. Yang lebih penting adalah memahami behavior, interest, needs dan community mereka.

“Misalnya, sama-sama perempuan usia 25–35 tahun bisa memiliki kebutuhan dan konsumsi konten yang sangat berbeda. Ada yang mencari career inspiration, parenting, beauty, wellness, atau entertainment,” ucap jebolan Nanyang Academy of Fine Arts Singapore ini. 

Kamu bisa mulai dari siapa yang paling membutuhkan atau relate dengan value yang kita tawarkan. Pelajari juga bagaimana mereka berperilaku di platform digital seperti apa yang sudah mereka konsumsi dan kebiasaan lainnya.

Dari sana kamu bisa menemukan audience segment yang bukan hanya besar, tapi juga relevan dan berpotensi melakukan action.

BACA JUGA:Imbas Erupsi Anak Krakatau, Seluruh Penerbangan Garuda Rute Jakarta Dibatalkan hingga Besok

3. Pesan yang Konsisten

Kategori :