Hamil Muda Tak Bikin Mundur, Dua Calon Manajer Koperasi Merah Putih Tetap Gas Ikut Latihan Militer

Selasa 30-06-2026,09:47 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id – Di saat sebagian ibu hamil memilih mengurangi aktivitas, dua calon manajer Koperasi Desa Merah Putih asal Riau justru menjalani rutinitas di lingkungan militer. Meski tengah mengandung, keduanya memilih tetap mengikuti pelatihan dasar militer yang menjadi bagian dari pembekalan calon manajer koperasi.

Mereka adalah Wahyuni Fitri dan Berlianti Hasibuan. Saat pertama kali memasuki barak di Pusat Pendidikan Kesehatan Pusat Kesehatan TNI Angkatan Darat, Jakarta Timur, pada 14 Juni 2026, usia kehamilan keduanya baru menginjak sekitar lima minggu.

Kini, usia kandungan Wahyuni telah memasuki pekan kedelapan, sementara Berlianti sekitar sembilan minggu.

"Kalau dihitung minggu ini, usia kandungan saya sudah masuk minggu kedelapan," ujar Wahyuni saat ditemui di sela pelatihan di Jakarta pada Selasa, 30 Juni 2026.

Wahyuni mengaku baru mengetahui dirinya hamil setelah dinyatakan lolos sebagai peserta pelatihan. Saat menjalani pemeriksaan kesehatan dalam proses seleksi, kehamilannya belum terdeteksi sehingga ia tetap dinyatakan memenuhi syarat.

BACA JUGA:Foto Jokowi Injak Kepala Kerbau Meledak, PDIP Singgung Ambisi Kekuasaan Keluarga, PSI Balas Itu Murni Adat

"Saat tes kesehatan, kehamilan saya belum diketahui. Baru ketahuan setelah pengumuman kelulusan. Kami memeriksakannya sendiri," katanya.

Setelah memastikan dirinya hamil, Wahyuni berdiskusi dengan sang suami. Meski sempat mempertimbangkan berbagai kemungkinan, ia akhirnya memilih tetap berangkat ke Jakarta karena merasa telah melalui proses seleksi yang panjang hingga berhasil lolos.

"Kami sudah melewati tahapan seleksi yang panjang. Ini sudah menjadi penentuan kelulusan, jadi saya memutuskan tetap datang," ujarnya.

Keputusan serupa juga diambil Berlianti Hasibuan. Perempuan berusia 30 tahun itu mengaku sempat khawatir kehamilan pertamanya membuat dirinya kehilangan kesempatan menjadi calon manajer koperasi.

Sebelum keberangkatan, ia menyampaikan kondisinya kepada panitia penyelenggara. Hasilnya, panitia memastikan kondisi kesehatan peserta dapat dilaporkan dan dipertimbangkan selama pelatihan berlangsung.

"Kemudian kami berdiskusi. Ternyata memang ada ketentuan bahwa apabila ada masalah kesehatan, peserta bisa menyampaikannya," kata Berlianti.

BACA JUGA:Jokowi Keliling Bawa PSI, Puan Minta Semua Tahan Diri, Golkar Bilang Itu Hak Warga

Selama hampir tiga pekan mengikuti pendidikan di lingkungan TNI, keduanya mengaku tidak mengalami kendala berarti. Mereka tidak diwajibkan mengikuti latihan fisik di lapangan, melainkan hanya mengamati jalannya latihan dari lokasi yang telah ditentukan.

Selain itu, panitia juga memberikan keleluasaan kepada keduanya untuk beristirahat apabila kondisi tubuh mulai lelah selama mengikuti kegiatan.

"Kami tetap menyaksikan proses latihan, tetapi tidak dilibatkan dalam kegiatan fisik," ujar Wahyuni.

Saat ditemui, Wahyuni dan Berlianti terlihat mengikuti materi pembelajaran di dalam kelas. Keduanya mengenakan seragam loreng khas TNI dengan kain berwarna biru yang melingkar di lengan atas sebagai penanda kondisi khusus dibanding peserta lainnya.

Sebenarnya, keduanya sempat mendapat tawaran untuk menghentikan pelatihan setelah evaluasi yang dilakukan pekan lalu. Namun, mereka memilih bertahan karena merasa telah menjalani separuh rangkaian pendidikan menuju pelantikan sebagai manajer koperasi.

"Apalagi selama di sini kami mendapat banyak keringanan dan perhatian," tutur Wahyuni.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan menyatakan sejak awal tidak ada larangan bagi peserta yang sedang hamil untuk mengikuti proses seleksi maupun pelatihan. Selama memenuhi syarat, peserta tetap diperbolehkan mengikuti seluruh tahapan rekrutmen.

Namun, setelah muncul sejumlah kasus peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia yang meninggal saat mengikuti pelatihan dasar militer, pelaksanaan program tersebut dievaluasi.

Salah satu hasil evaluasi adalah keputusan memulangkan 32 peserta yang sedang hamil dari berbagai satuan pendidikan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal Ketut Gede Wetan Pastia mengatakan keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan peserta sekaligus alasan kemanusiaan.

"Dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi kesehatan dan alasan kemanusiaan, sebanyak 32 peserta pada tahap pertama dipulangkan dan dimasukkan ke dalam talent pool," kata Ketut di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.

Kategori :