Lima Mahasiswa Masuk Rombongan VIP Gibran, Kampus Mana Saja yang Kecipratan?

Kamis 18-06-2026,12:49 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

Peserta lainnya adalah Nolan Christoper Adam, mahasiswa Pendidikan Dokter Universitas Pelita Harapan angkatan 2024. Di luar kampus, Nolan aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan dan kesehatan masyarakat.

Menurut profil LinkedIn miliknya, Nolan pernah menjadi peneliti di organisasi kepemudaan 2041 Hong Kong yang bergerak di bidang keberlanjutan dan aksi iklim. Ia juga aktif dalam Asian Medical Students Association serta terlibat dalam sejumlah program kesehatan masyarakat dan kegiatan sukarela.

Adapun Salsabila Maulida berasal dari Program Studi Seni Tari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung. Mahasiswi angkatan 2023 tersebut cukup aktif dalam organisasi kampus.

Ia pernah menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Seni Tari dan menjabat Ketua Majelis Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia Bandung pada 2025. Aktivitas organisasinya cukup sering dibagikan melalui akun media sosial pribadi.

Satu nama lain yang turut diajak adalah Rapid Bena Matin, mahasiswa Hukum Universitas Jenderal Soedirman. Rapid tercatat mulai berkuliah pada September 2023 dan baru saja terpilih sebagai Duta Kampus Unsoed periode 2026-2027.

Keterlibatan Rapid dalam rombongan wakil presiden ternyata bukan hasil seleksi khusus. Juru Bicara Unsoed, Dian Bestari Santi Rahayu, mengatakan kampus hanya memenuhi permintaan dari Sekretariat Wakil Presiden.

“Tidak ada ciri spesifik yang diminta, hanya diminta mengirimkan mahasiswa saja,” kata Dian saat dihubungi pada Kamis, 18 Juni 2026.

Dian juga memastikan keikutsertaan Rapid tidak mengganggu kegiatan akademik. Menurut dia, mahasiswa tersebut sedang menjalani program magang sehingga tidak meninggalkan proses belajar di kampus.

“Jadi tidak meninggalkan aktivitas pembelajaran di kampus,” ujar Dian.

Pelibatan mahasiswa dalam kunjungan kerja pejabat sebenarnya bukan hal baru. Namun, di tengah maraknya kritik terhadap program-program prioritas pemerintah, langkah ini tetap mengundang pertanyaan. Apakah mahasiswa benar-benar diberi ruang untuk mengawasi secara independen, atau sekadar menjadi wajah partisipasi publik yang dibawa berkeliling bersama rombongan negara.

Kategori :