Bea Cukai Bongkar Akal Bulus Importir, AI Jadi Satpam Digital yang Bikin Penerimaan Negara Melonjak

Senin 15-06-2026,17:02 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id – Salah satu penyakit lama dalam aktivitas impor adalah praktik manipulasi harga barang. Modusnya sederhana, nilai barang yang sebenarnya tinggi dilaporkan lebih rendah agar kewajiban bea masuk yang harus dibayar ikut menyusut. Celah inilah yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kebocoran penerimaan negara.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Djaka Budhi Utama mengatakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai menjadi senjata baru untuk menutup celah tersebut. Menurut dia, pemanfaatan teknologi digital mampu membantu mendeteksi praktik under-invoicing atau pelaporan nilai barang impor yang tidak sesuai dengan harga sebenarnya.

Bea Cukai bahkan telah mengembangkan sistem digital bernama Trade AI secara mandiri sejak tahun lalu. Sistem ini digunakan untuk memperkuat pengawasan sekaligus mengidentifikasi potensi penyimpangan dalam kegiatan impor.

Djaka mengklaim hasilnya mulai terlihat dari sisi penerimaan negara. Menurut dia, penggunaan AI berkontribusi terhadap kenaikan pendapatan bea masuk sepanjang tahun ini.

"Terbukti dengan memanfaatkan AI, sampai bulan Juni ini penerimaan bea masuk kami sudah meningkat hampir 9 persen," kata Djaka dalam rapat bersama Komisi XI DPR di Senayan, Jakarta, Senin, 15 Juni 2026.

BACA JUGA:Hakim Nakal Kian Menggila, KY Sikat 90 Pelanggar Etik dalam Enam Bulan

Kenaikan tersebut, menurut Djaka, tidak terlepas dari kemampuan teknologi dalam membaca pola transaksi yang mencurigakan, termasuk praktik penggelembungan maupun penurunan nilai barang yang kerap dilakukan untuk mengurangi kewajiban pembayaran kepada negara.

Praktik under-invoicing sendiri selama ini menjadi salah satu tantangan utama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Ketika nilai barang impor dilaporkan lebih rendah dari harga sebenarnya, negara berpotensi kehilangan penerimaan yang seharusnya masuk ke kas pemerintah.

Karena itu, pemanfaatan AI dipandang sebagai langkah untuk mempersempit ruang gerak pelaku manipulasi sekaligus meningkatkan efektivitas pengawasan di tengah terus meningkatnya volume perdagangan internasional.

Kategori :