“Beras naik. Lapangan kerja sulit,” kata perwakilan aliansi mahasiswa.
Mahasiswa juga melontarkan kritik keras terhadap gaya pemerintahan Prabowo. Dalam pernyataan sikap tersebut, mereka menilai pemerintah menunjukkan sikap yang jauh dari harapan masyarakat.
Menurut aliansi, Presiden Prabowo memperlihatkan wajah pemerintahan yang arogan, minim akuntabilitas, minim empati, dan tidak berpihak kepada rakyat.
Mereka bahkan menilai janji Indonesia Emas yang selama ini digaungkan justru berpotensi membawa Indonesia ke arah kemunduran ekonomi dan demokrasi.
“Kritik data diabaikan. Pemerintah mengelak dan menindas daripada bertanggung jawab,” ujar perwakilan aliansi.
Tak hanya mengkritik pemerintah, mahasiswa juga menyoroti kehadiran aparat TNI dalam pengamanan aksi. Menurut mereka, tugas utama TNI adalah menjaga kedaulatan negara, bukan berada di tengah penanganan demonstrasi sipil.
Aliansi mahasiswa memastikan aksi lanjutan akan kembali digelar dalam waktu dekat. Mereka mengklaim jumlah peserta yang turun pada demonstrasi berikutnya akan lebih besar dibandingkan aksi perdana.
Koalisi mahasiswa yang terlibat dalam aksi tersebut terdiri dari BEM UI bersama 15 BEM fakultas di lingkungan UI, BEM KM IPB, BEM Politeknik Negeri Jakarta, BEM Universitas Pancasila, Aliansi BEM Gunadarma, Front Mahasiswa Nasional (FMN), Pembebasan, Semar UI, serta sejumlah organisasi mahasiswa lain yang masih melakukan konsolidasi.
“Beberapa organisasi dan simpul pergerakan yang ikut konsolidasi nasional di Kampus UI kemarin masih akan memastikan kehadiran dan estimasi massa yang ikut di rapat malam ini,” kata Yatalathof.
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa aksi yang berlangsung pada Jumat ini kemungkinan baru menjadi pembuka dari rangkaian demonstrasi yang lebih besar dalam beberapa hari ke depan.