JAKARTA, PostingNews.id – Acara nonton bareng sekaligus diskusi film dokumenter Pesta Babi di Universitas Padjadjaran batal digelar sesuai rencana. Alasannya terdengar administratif dan sangat Indonesia sekali, kampus sedang libur panjang.
Padahal, film garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cipry Paju Dale itu belakangan justru ramai dibicarakan karena berkali-kali dibubarkan di berbagai daerah. Jadi ketika agenda diskusi di kampus mendadak tak dapat izin, publik tentu sulit menahan kecurigaan.
Acara yang digagas Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Unpad itu rencananya berlangsung Sabtu, 16 Mei 2026. Namun pihak kampus menolak memberi izin karena waktunya bertepatan dengan libur Kenaikan Isa Almasih dan cuti bersama.
Direktur Kemahasiswaan Universitas Padjadjaran, Inu Isnaeni Sidiq, mengatakan alasan utamanya murni soal operasional kampus.
“Kami minta jangan di hari libur dan cuti bersama. Kenapa? Karena staf kami juga harus libur,” kata Inu kepada wartawan, Kamis, 14 Mei 2026.
BACA JUGA:Sering Loyo dan Ngantuk Padahal Kerjaan Numpuk? Ini yang Jadi Biang Keroknya!
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di tengah situasi film ini yang terus diadang di berbagai tempat, penjelasan soal “staf sedang libur” terasa seperti jawaban yang secara teknis benar, tapi sulit menghentikan pertanyaan publik.
Apalagi, pihak kampus juga buru-buru menegaskan bahwa mereka tidak anti diskusi. Bahkan hasil diskusi disebut bisa diarahkan menjadi publikasi ilmiah.
“Selama tempatnya tersedia, kenapa tidak?” ujar Inu.
Pihak Unpad juga menegaskan penolakan izin acara di hari libur memang lazim terjadi. Kepala Kantor Komunikasi Publik Unpad, Dandi Supriadi, menyebut kampus tak punya staf sarana prasarana yang bekerja saat tanggal merah.
“Tentu akan tidak mendapatkan izin karena kampus dalam keadaan libur tidak ada staf sarana prasarana yang bekerja,” kata Dandi.
BACA JUGA:Vivo X500 Pro Max Bocor di IMEI, Siap Jadi HP Kamera Paling Gahar Tahun 2026?
Di atas kertas, semuanya tampak administratif. Tapi masalahnya, film Pesta Babi sudah telanjur dianggap “berbahaya” di banyak tempat, meski isinya bicara soal konflik agraria dan masyarakat adat Papua Selatan yang kehilangan hutan serta ruang hidup akibat proyek-proyek besar.
Judul filmnya memang provokatif. Dan di negeri yang gampang panas oleh simbol, kata “babi” bisa lebih cepat bikin orang tersinggung dibanding isi filmnya sendiri.
Sebelumnya, pemutaran film ini juga dibubarkan di Ternate. Salah satunya terjadi di Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Khairun pada Selasa malam, 12 Mei 2026.
Ketua Umum KAFRAPALA, Asriati La Abu, mengatakan pembubaran terjadi setelah petugas keamanan kampus datang bersama seorang anggota TNI.