Universitas Mataram Bubarkan Nobar Pesta Babi, Mahasiswa Disuruh Nonton Bola

Jumat 08-05-2026,10:23 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Pemutaran film dokumenter Pesta Babi di Universitas Mataram mendadak berubah jadi tontonan absurd. Bukan karena isi filmnya, tapi karena kampus sendiri turun tangan membubarkan acara yang digelar mahasiswa. Ironisnya, alasan pelarangannya terdengar seperti kalimat yang lahir dari ruang birokrasi yang alergi diskusi.

Kamis malam, 7 Mei 2026, ratusan mahasiswa sudah berkumpul di sekitar Gedung PKM Universitas Mataram. Layar dipasang, proyektor dinyalakan, dan acara nonton bareng siap dimulai. Tapi belum sempat film berjalan jauh, puluhan petugas keamanan kampus berdiri di depan layar dan menutup proyektor.

Mahasiswa yang menjadi panitia sempat berdebat dengan pihak biro akademik. Mereka mempertanyakan alasan pelarangan film dokumenter karya sutradara Dhandy Dwi Laksono itu. Namun jawaban yang datang justru terdengar makin bikin bingung.

Wakil Rektor III Unram, Sujita, datang menemui massa dan langsung menegaskan bahwa pemutaran film tidak diizinkan. “Tidak ada alasan, pokoknya tidak boleh menonton,” kata Sujita, yang langsung disambut teriakan mahasiswa.

BACA JUGA:Rossa Buka Suara Mengenai Operasi Plastik Gagal, Curhat Pilu Sampai Down Berat Bikin Fans Ikut Sedih

Kalimat itu mungkin akan sulit dilupakan para mahasiswa malam itu. Sebab di kampus, tempat yang seharusnya jadi ruang berpikir dan berdebat, larangan justru hadir tanpa argumentasi yang jelas. Sujita mengaku sudah menonton film tersebut. Menurutnya, isi dokumenter itu dianggap menyerang pemerintah Indonesia.

“Isinya mendiskreditkan pemerintah RI. Saya sudah nonton. Terserah pandangan Anda, yang jelas isinya menghina negara saya,” ujarnya.

Mahasiswa lalu meminta alasan pelarangan itu diumumkan lewat pengeras suara agar semua orang mendengar langsung. Namun penjelasan berikutnya malah terasa makin satir.

“Unram menolak demi kondusivitas. Film ini kurang baik untuk ditonton. Lebih baik kita nonton bareng sepak bola,” kata Sujita.

Ucapan itu langsung disambut sorakan mahasiswa. Sebab di tengah perdebatan soal demokrasi, kebebasan akademik, dan ruang diskusi, solusi yang ditawarkan justru pindah channel ke sepak bola.

BACA JUGA:Tensi Panas Jelang Piala Dunia 2026: Muncul Ultimatum Buat FIFA, Nasib Partisipasi Iran Kembali Dipertanyakan?

Sujita juga membantah ada tekanan dalam keputusan tersebut.

“Tidak ada tekanan, saya hanya menjalankan perintah,” katanya.

Masalahnya, ketika ditanya perintah dari siapa, jawabannya mendadak berhenti di tengah jalan.

Larangan ini memicu kemarahan mahasiswa. Teriakan “Unram anti demokrasi” dan “Papua bukan tanah kosong” menggema di area kampus.

Kategori :