Produksi kedelai dalam negeri baru di kisaran 700 ribu sampai 800 ribu ton per tahun. Sementara kebutuhan industri mencapai 2,5 juta sampai 2,7 juta ton. Artinya, impor masih jadi penopang utama dengan angka sekitar 1,2 juta sampai 1,5 juta ton.
Masalahnya bukan cuma produksi. Infrastruktur juga bermasalah. Amran menemukan lebih dari separuh irigasi dalam kondisi rusak dari total 7,1 juta hektare. Banyak yang tidak tersentuh perbaikan selama puluhan tahun.
Distribusi pupuk juga tak kalah kacau. Serapan anggaran benih masih rendah, dan pupuk sering datang terlambat.
“Di seluruh daerah, selalu bermasalah. Anggap saja kalau telat dua minggu, bisa menyebabkan panen tertunda setahun,” ujar Amran.
BACA JUGA:Buruh Dipuja di Panggung, Nasib di Lapangan Masih Nanggung, Megawati Bicara Ideologi di Hari May Day
Di titik ini, cerita jadi terasa paradoks. Presiden bicara soal ancaman besar dan kedaulatan pangan, sementara di lapangan, urusan dasar seperti air dan pupuk saja belum rapi.
Akhirnya, pertanyaannya menggelitik. Musuhnya benar-benar pemain ekonomi rakus, atau justru sistem yang belum selesai dibereskan dari dalam.