JAKARTA, PostingNews.id – Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf memastikan persiapan Muktamar NU tetap melaju sesuai rel yang sudah digambar. Agenda lima tahunan itu rencananya digelar Agustus 2026. Kelihatannya rapi, terdengar tenang, tapi seperti biasa, urusan organisasi sebesar ini jarang benar-benar sesederhana yang diucapkan.
Dalam keterangan tertulis, Gus Ipul menjelaskan bahwa panitia kecil sudah dibentuk dan bahkan sudah menuntaskan struktur kepanitiaan yang dibutuhkan untuk rangkaian acara, mulai dari Konbes, Munas Alim Ulama, sampai puncaknya Muktamar.
"Dibentuk panitia kecil dan sekarang sudah menuntaskan susunan kepanitiaan yang memang diperlukan untuk penyelenggaraan Konbes, Munas Alim Ulama, dan Muktamar," ujar Gus Ipul pada Senin, 27 April 2026.
Panitia kecil ini diisi nama-nama yang bukan orang baru di lingkaran elite NU. Said Asrori ditunjuk sebagai Ketua Steering Committee, Mohammad Nuh sebagai sekretarisnya, sementara Gus Ipul sendiri memegang kendali sebagai Ketua Organizing Committee dengan Amin Said Husni sebagai sekretaris.
BACA JUGA:Niat Lerai Malah Dihajar, Anggota TNI Dikeroyok di Depok
Susunan ini nantinya akan dilaporkan ke Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Gus Ipul menegaskan prosesnya masih terus berjalan dan tinggal menunggu waktu untuk dilaporkan secara resmi. "Intinya bahwa proses persiapan muktamar terus berjalan. Tinggal kami nanti akan melaporkan," ujarnya.
Soal peserta, mekanismenya juga terdengar administratif tapi krusial. Peserta hanya berasal dari pengurus cabang dan wilayah yang sudah mengantongi surat keputusan. Masalahnya, tidak semua surat keputusan itu sudah beres.
Di titik ini, mulai terasa ruang abu-abunya. Sebab, ada tim panel yang dipimpin Mohammad Nuh yang bertugas menuntaskan surat keputusan yang masih tersendat. Artinya, siapa yang lolos secara administratif, bisa sangat bergantung pada proses di meja panel ini.
Dengan kata lain, Muktamar memang belum dimulai, tapi penyaringannya sudah berjalan. Kalau semua benar-benar sekadar teknis, mungkin tak ada yang perlu dicurigai. Tapi dalam tradisi organisasi besar seperti NU, urusan panitia dan legalitas peserta sering kali bukan cuma soal administrasi, melainkan juga soal arah kekuasaan yang sedang disusun pelan-pelan.