Namun temuan ini bukan berarti hidup sehat jadi tidak penting. Justru sebaliknya, gen hanya memberi “setengah peta”, sisanya tetap ditentukan oleh lingkungan dan gaya hidup.
“Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian peluang umur panjang ditentukan oleh gen, sementara sisanya dipengaruhi oleh gaya hidup dan lingkungan tempat tinggal,” kata Deelen.
Ia menegaskan bahwa faktor lingkungan tetap harus dioptimalkan, karena di situlah ruang manusia untuk “mengubah nasibnya”.
Penelitian ini juga masih punya keterbatasan. Sebagian besar data berasal dari populasi Eropa Utara, sehingga belum tentu langsung berlaku untuk semua negara.
“Apakah pewarisan sifat ini spesifik untuk negara negara Nordik, atau juga terjadi di bagian dunia lain,” ujar Deelen.
Ke depan, riset semacam ini bisa membuka jalan baru di dunia kesehatan. Memahami gen umur panjang bisa membantu ilmuwan merancang intervensi agar manusia tidak hanya hidup lebih lama, tapi juga lebih sehat.
“Jika kita memahami mekanisme biologis yang menyebabkan orang hidup lebih lama dan lebih sehat, kita mungkin dapat merancang intervensi untuk meningkatkan rentang kesehatan,” kata Pilling.
Di titik ini, satu hal jadi jelas. Umur panjang bukan sekadar soal hidup sehat atau tidak. Ada faktor yang sudah dibawa sejak lahir, dan ada yang masih bisa diusahakan.
Sisanya, mungkin bukan lagi soal pilihan, tapi soal seberapa jauh manusia bisa mengakali takdir biologinya sendiri.