Namun JK membantah tudingan tersebut. Ia menegaskan ceramahnya tidak dimaksudkan untuk menyerang agama mana pun, melainkan mengingatkan bahaya penggunaan agama sebagai pembenaran konflik.
“Saya tidak bicara tentang dogma,” kata JK di Jakarta Selatan, Sabtu, 18 April 2026.
Ia juga menekankan bahwa baik Islam maupun Kristen tidak mengajarkan kekerasan. Dalam konteks konflik Poso dan Ambon, menurutnya, agama justru kerap dijadikan legitimasi oleh pihak-pihak yang berkonflik.
“Tidak ada ajaran agama yang membenarkan saling membunuh, itu yang saya sampaikan,” ujarnya.
JK menjelaskan penggunaan istilah syahid dalam ceramahnya disesuaikan dengan audiens yang berada di masjid, dan ia menyamakannya dengan istilah martir dalam tradisi Kristen.
Ia mengingatkan, konflik berlatar agama di masa lalu telah memakan korban besar. “Ada 7 ribu orang meninggal dalam tiga tahun, itu akibat konflik yang membawa-bawa agama,” kata JK.
Kini, polemik bukan lagi soal isi ceramah semata, melainkan siapa yang pertama kali memotong narasi dan menyebarkannya hingga memicu kegaduhan nasional.