Isu Fusi Gerindra NasDem Meledak, Dasco Ngaku Tak Tahu Sumbernya

Selasa 21-04-2026,09:49 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Isu penggabungan Partai Gerindra dan Partai NasDem mendadak bikin gaduh panggung politik nasional. Tapi di tengah rumor yang makin liar, elite Gerindra justru mengaku tak tahu-menahu.

Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menegaskan tidak pernah ada pembicaraan soal penggabungan dua partai tersebut. Ia bahkan menyebut pihaknya ikut heran dengan kabar yang beredar.

“Seperti yang disampaikan oleh NasDem bahwa kita tidak pernah ada pembicaraan seperti itu,” kata Dasco di Gedung DPR, Jakarta, Selasa, 21 April 2026.

Dasco mengaku baru mendengar isu itu dari pemberitaan. Ia mempertanyakan sumber kabar yang menyebut adanya rencana merger antara dua kekuatan politik tersebut.

“Kita juga eh apa namanya Begitu dengar juga kita bingung sumbernya dari mana, tapi karena NasDem juga sudah duluan menjelaskan karena subjeknya NasDem, ya kita pikir sudah cukup,” ujarnya.

BACA JUGA:Respons Santai Joko Widodo Soal Pernyataan Jusuf Kalla: Saya Bukan Siapa-siapa, Saya Cuma Orang Kampung

Isu ini sebelumnya mencuat setelah laporan Majalah Tempo edisi 12 April 2026 yang menyebut adanya usulan dari Prabowo Subianto kepada Surya Paloh untuk menggabungkan NasDem dengan Gerindra. Usulan itu disebut muncul dalam pertemuan di Hambalang pada pertengahan Februari 2026.

Jika skenario itu terjadi, kekuatan gabungan dua partai ini bisa mengumpulkan hampir 35 juta suara nasional atau sekitar 23 persen berdasarkan hasil Pemilu 2024. Angka yang cukup untuk mengubah peta politik secara signifikan.

Namun dari kubu NasDem, responsnya tak kalah dingin. Surya Paloh langsung membantah kabar tersebut. Sementara Wakil Ketua Partai NasDem Saan Mustopa mengaku terkejut dengan isu yang beredar.

Ia bahkan memilih istilah yang lebih halus ketimbang merger atau akuisisi, yakni fusi. Meski begitu, ia menilai ide tersebut tidak mudah diwujudkan.

“Misalnya terkait dengan soal konteks ideologi, konteks identitas, eksistensi partai, karena membangun atau mendirikan partai itu, para pendiri partai masing-masing, tentu punya idealisme dan gagasan dalam konteks yang berbeda-beda,” kata Saan di Kompleks DPR, Jakarta, Senin, 13 April 2026.

Menurutnya, perbedaan ideologi dan identitas menjadi tembok besar yang sulit ditembus. Ia mengingatkan bahwa setiap partai lahir dari gagasan dan kepentingan yang tidak selalu sejalan.

Di tengah bantahan dari kedua kubu, isu ini tetap menyisakan tanda tanya. Apakah benar tidak ada pembicaraan sama sekali, atau justru manuver politik yang belum waktunya diakui ke publik.

Kategori :