JAKARTA, PostingNews.id — Pesan soal penghematan energi kembali digaungkan, tapi kali ini dengan nada yang lebih dalam dari sekadar imbauan teknis. Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo mengingatkan, hemat energi bukan urusan darurat saat krisis datang, melainkan soal tanggung jawab moral.
Ia menyampaikan hal itu di Gereja Katedral Jakarta, Minggu, 5 April 2026. Menurutnya, kebiasaan berhemat energi seharusnya menjadi kesadaran sejak awal, bukan reaksi ketika situasi sudah genting.
“Mengenai hemat energi tidak usah disuruh, tidak usah menunggu krisis. Kita mesti menghemat energi,” ujar Suharyo.
Bagi Suharyo, persoalan energi tidak bisa dilihat hanya dari sisi teknis seperti listrik atau bahan bakar. Ia mengajak publik melihatnya dalam kerangka yang lebih luas, yakni konsep ekologi integral yang menjadi bagian dari ajaran sosial Gereja Katolik.
“Kata kuncinya, kembali lagi, saya mengikuti apa yang dikatakan oleh pemimpin gereja, kata kuncinya adalah ekologi integral,” tuturnya.
Konsep ini merujuk pada ensiklik Laudato Si’ yang ditulis Paus Fransiskus pada 2015. Dalam dokumen tersebut, hubungan antara manusia, lingkungan, dan Tuhan dipandang sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Suharyo menegaskan, krisis lingkungan bukan berdiri sendiri. Ia bisa merembet menjadi krisis kemanusiaan, termasuk ketidakadilan sosial. Akar masalahnya, kata dia, bukan semata soal teknologi, melainkan sikap manusia itu sendiri.
“Jadi ekologi integral itu bukan sekedar masalah listrik, air, sampah, pohon, bukan hanya itu. Ekologi integral itu adalah ekosistem dunia,” katanya.
Ia pun menyinggung kondisi dunia yang menurutnya masih dibayangi keserakahan, bukan hanya pada level individu, tetapi juga antarbangsa. Dalam situasi seperti itu, kerusakan lingkungan menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
BACA JUGA:Pertamina Gaspol Energi Bersih! Jurus Jitu Hadapi Krisis Energi Global Lewat EBT
“Bukan hanya pribadi, tetapi sebagai bangsa. Apalagi keserakahan itu didukung oleh senjata, habislah yang namanya keadaban itu,” ujar Suharyo.
Menurutnya, solusi tidak cukup berhenti pada ajakan hemat energi. Perubahan yang dibutuhkan justru lebih mendasar, yakni pada cara pandang dan moral manusia.
“Selama masih ada yang serakah, tidak ada yang solider dengan sesamanya atau solidaritas itu berkurang, kerusakan bumi ini adalah akibat dari semuanya itu. Maka ekologi integral, pertobatan ekologis itu artinya adalah pertobatan moral hati nurani,” ucapnya.
Di sisi lain, Suharyo juga mengingatkan pentingnya gaya hidup sederhana. Ia menilai konsep minimalis bukan berarti hidup kekurangan, melainkan hidup secukupnya tanpa berlebihan.