Teknologi Kuno Iran Bikin Adem Tanpa Listrik, Dunia Modern Baru Ikut Belajar

Senin 30-03-2026,07:00 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Bertahan hidup di wilayah kering seperti Dataran Tinggi Iran bukan sekadar soal adaptasi, tapi hasil rekayasa teknologi yang sudah matang sejak ribuan tahun lalu. Di kota Yazd, jejak itu masih terlihat jelas. Peradaban lama di sana tidak hanya membangun kota, tapi merancang sistem hidup yang menyatu dengan alam.

Di tengah suhu ekstrem, masyarakat kuno Iran mengandalkan arsitektur sebagai alat bertahan hidup. Bangunan tidak dibuat sekadar indah, tapi berfungsi mengatur udara dan air tanpa listrik. Sistem ini tersusun rapi, mulai dari ruang pendingin bawah tanah hingga menara penangkap angin yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Salah satu teknologi paling krusial adalah qanat, terowongan air bawah tanah yang sudah dikembangkan sejak sekitar 3.000 tahun lalu. Sistem ini mengambil air dari sumber di pegunungan lalu mengalirkannya ke permukiman yang jaraknya bisa mencapai puluhan kilometer.

Dilaporkan National Geographic, para insinyur kuno menggali terowongan miring dengan presisi tinggi agar air tetap mengalir stabil. Dari permukaan gurun, lubang-lubang kecil yang terlihat seperti titik-titik itu sebenarnya adalah saluran udara untuk pekerja sekaligus ventilasi sistem.

BACA JUGA:Coretax Lemot, Purbaya Sebut Ada Anak Buah Nakal Main Vendor

Kemiringan terowongan jadi kunci. Jika terlalu landai, air akan menggenang. Jika terlalu curam, aliran air justru merusak struktur. Perhitungan ini dilakukan tanpa teknologi modern, tapi mampu bertahan hingga ribuan tahun.

Menurut catatan UNESCO, sistem qanat tidak berdiri sendiri. Ia dilengkapi dengan reservoir, tempat istirahat pekerja, hingga sistem distribusi air yang adil bagi pemilik lahan. Air dialirkan ke titik keluar dan dibagi sesuai kebutuhan pertanian.

Teknologi ini bahkan menyebar hingga Afrika Utara dan Eropa lewat jalur perdagangan kuno. Namun kini, keberadaannya mulai terancam. Modernisasi dan perubahan pola pertanian membuat banyak qanat ditinggalkan.

Seorang pengelola qanat berusia 102 tahun, Gholamreza Nabipour, menggambarkan betapa pentingnya sistem ini bagi kehidupan masyarakat.

BACA JUGA:Suka Mengusir Kantuk dengan Minum Energy Drink? Hati-Hati, Ada Bahaya yang Mengintai Jantungmu!

“Qanat adalah sumber kehidupan leluhur saya dan saya merasa wajib menjaganya sampai akhir hayat,” ujarnya.

Selain air, persoalan besar di gurun adalah panas. Untuk mengatasinya, masyarakat Persia mengembangkan badgir atau menara penangkap angin.

Teknologi ini bekerja dengan menangkap angin di bagian atas menara, lalu mengalirkannya ke dalam bangunan. Udara panas akan naik dan keluar, sementara udara yang lebih dingin turun ke ruang hunian. Dalam banyak kasus, udara ini melewati kolam air bawah tanah sehingga menghasilkan efek pendinginan alami.

Di Yazd, menara seperti ini masih berdiri, termasuk yang setinggi 33 meter di Taman Dowlatabad. Tanpa listrik, tanpa freon, tapi mampu menciptakan perbedaan suhu yang signifikan.

Para peneliti menyebut konsep ini sebagai pendinginan pasif. Teknologi serupa kini mulai dilirik kembali di tengah krisis iklim. Sistem pendingin modern saat ini menyumbang porsi besar konsumsi listrik global, sementara badgir menawarkan alternatif tanpa emisi.

Kategori :