Purbaya Dorong WFH Sehari, Klaim Tak Ganggu Ekonomi Nasional

Sabtu 28-03-2026,14:23 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id — Pemerintah mulai mengkaji skema kerja dari rumah satu hari dalam sepekan di tengah ancaman krisis energi global. Opsi ini muncul sebagai respons atas lonjakan harga minyak dunia setelah konflik di Asia Barat memanas.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kebijakan tersebut tidak akan mengganggu aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Ia justru melihat ada peluang efisiensi, terutama jika hari kerja dari rumah dipilih dengan tepat.

“Harusnya enggak masalah, kalau cuma satu hari saja. Produktivitas kita total enggak akan terlalu terganggu,” ujar Purbaya di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat, 27 Maret 2026.

Menurutnya, pengurangan mobilitas pekerja akan berdampak pada penurunan konsumsi bahan bakar minyak. Namun, ia mengakui belum menghitung secara detail besaran efisiensi yang bisa dicapai.

“Pasti ada penghematan BBM berapa persen, saya enggak tahu detailnya karena bisa berubah-ubah tergantung harga minyak,” katanya.

BACA JUGA:Bongkar Rahasia Musikmu, Spotify Rilis Fitur Gokil SongDNA! Cek Updatenya Disini..

Purbaya juga menegaskan kebijakan ini tidak bersifat menyeluruh. Sektor yang membutuhkan operasional terus-menerus seperti industri manufaktur dan layanan publik tetap berjalan seperti biasa.

“Tapi kalau untuk produktivitas, kalau untuk pabrik-pabrik dan lain-lain yang memang memerlukan kerja terus-menerus, ya, enggak harus, kan. Terus untuk pelayanan publik, ya, tetap jalan,” ucapnya.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan keputusan soal WFH satu hari akan diumumkan sebelum akhir Maret. Meski begitu, ia belum membuka detail waktu penerapan maupun hari yang dipilih.

“Bulan ini tinggal berapa hari? Ya, jadi masih ada waktu,” kata Airlangga.

Wacana ini sebelumnya didorong Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet. Ia meminta langkah konkret untuk menekan konsumsi BBM di tengah tekanan harga minyak global yang melonjak hingga kisaran USD 100 (Rp1.690.000) per barel dari sebelumnya sekitar USD 70 (Rp1.183.000).

BACA JUGA:Coretax Lemot, Purbaya Sebut Ada Anak Buah Nakal Main Vendor

Namun, tidak semua pihak optimistis. Ekonom energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi menilai kebijakan ini sulit efektif jika tidak diiringi kedisiplinan.

“Sehingga konsumsi BBM tidak dapat dihemat secara signifikan,” ujarnya.

Ia mengingatkan, skema kerja dari rumah satu hari justru berpotensi berubah menjadi pola kerja dari mana saja, bahkan dimanfaatkan untuk berlibur. Apalagi jika diterapkan pada hari Jumat yang berdekatan dengan akhir pekan.

Kategori :