JAKARTA, PostingNews.id — Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus makin memunculkan tanda tanya. Informasi yang disampaikan aparat justru saling berbeda, memicu kekhawatiran publik bahwa pengusutan perkara ini tidak akan menyentuh aktor utama.
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia atau YLBHI menilai perbedaan keterangan antara polisi dan TNI berpotensi membuat kasus berhenti di pelaku lapangan saja.
Ketua Umum YLBHI Muhammad Isnur mengingatkan, ketidakjelasan informasi bisa mengaburkan arah penyelidikan. “Kami khawatir kerancuan informasi antara kepolisian dengan TNI menyebabkan pengungkapan kasus hanya berhenti di level eksekutor, bukan auktor intelektualnya,” kata Isnur melalui pesan WhatsApp kepada wartawan,, Kamis, 19 Maret 2026.
Ia menduga kuat, aksi penyiraman air keras yang dilakukan oknum prajurit Badan Intelijen Strategis TNI bukan tindakan spontan. Menurutnya, serangan itu mengarah pada operasi terencana terhadap pihak yang dianggap mengganggu stabilitas.
BACA JUGA:Kasus Penyiraman Andrie Yunus Diwarnai Versi Ganda, Polisi Bilang 2 Pelaku, TNI Amankan 4 Prajurit
Andrie sendiri diketahui merupakan bagian dari tim pencari fakta dalam Komite Pencari Fakta kerusuhan Agustus 2025. Temuan tim itu sempat menyinggung dugaan keterlibatan unsur TNI dalam peristiwa tersebut.
“Saya juga meyakini operasi seperti ini tidak mungkin dijalankan tanpa ada perintah atasan. Ini bukan operasi yang liar,” ujar Isnur.
Karena itu, YLBHI bersama koalisi masyarakat sipil mendesak pemerintah membentuk tim pencari fakta gabungan yang melibatkan lembaga independen seperti Komnas HAM. Mereka juga meminta agar prajurit yang terlibat diadili melalui peradilan umum, bukan militer.
Sorotan serupa datang dari Kontras. Kepala Divisi Pemantauan Impunitas Kontras Jane Rosalina menilai perbedaan versi antara polisi dan TNI menunjukkan adanya ketidakpastian fakta di lapangan.
Dalam konferensi pers sebelumnya, polisi menyebut dua terduga pelaku berinisial BHC dan MAK, bahkan membuka kemungkinan jumlah pelaku lebih dari empat orang. Di sisi lain, TNI justru merilis empat nama prajurit dengan inisial berbeda.
BACA JUGA:Andrie Yunus Disiram Air Keras, Kontras Tantang TNI Buka Komando
Komandan Pusat Polisi Militer TNI Yusri Nuryanto memastikan keempat prajurit tersebut sudah diamankan untuk proses lanjutan.
“Empat tersangka sudah kita amankan di Puspom TNI untuk dilakukan pendalaman ke tingkat penyidikan,” kata Yusri dalam konferensi pers di Mabes TNI, Rabu.
Melihat simpang siurnya informasi, Kontras mendesak verifikasi independen agar proses hukum tidak berhenti setengah jalan. Mereka juga meminta aparat memeriksa pejabat tinggi, termasuk Kepala BAIS, Panglima TNI, hingga Menteri Pertahanan, guna mengungkap siapa yang terlibat di balik serangan tersebut.
“Kami juga mendesak kepolisian segera memanggil dan melakukan pemeriksaan kepada Kepala BAIS, Panglima TNI, dan Menteri Pertahanan untuk memastikan siapa saja yang turut bagian dalam penyertaan, serta perbantuan penyerangan terhadap Andrie,” ujar Jane di Jakarta, Rabu, 18 Maret 2026.