Andrie Yunus Disiram Air Keras, Kontras Tantang TNI Buka Komando

Rabu 18-03-2026,14:13 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id – Kasus penyerangan terhadap pegiat HAM Andrie Yunus makin melebar. atau Kontras kini mendesak aparat tak berhenti di pelaku lapangan, tapi berani menelusuri sampai pucuk komando militer.

Desakan itu bukan tanpa alasan. Kontras melihat ada potensi keterlibatan yang lebih luas dalam kasus penyiraman cairan kimia terhadap Andrie. Kepala Divisi Pemantauan Impunitas Kontras, , meminta penyidik kepolisian dan Pusat Polisi Militer segera memanggil sejumlah pejabat tinggi, mulai dari Kepala Badan Intelijen Strategis TNI, Panglima TNI, hingga Menteri Pertahanan.

"Untuk memastikan siapa saja yang turut bagian dalam penyertaan, serta perbantuan penyerangan terhadap Andrie," kata Jane.

Menurut dia, pemanggilan hingga level atas bukan sekadar formalitas, tapi penting untuk membongkar apakah aksi ini berdiri sendiri atau justru terkait rantai komando. Ia menegaskan, publik berhak tahu apakah para pelaku bergerak sendiri atau ada keterlibatan institusi.

Di sisi lain, Kontras juga menyoroti peran agar segera membuka identitas pelaku dan memastikan kondisi mereka, termasuk hak pendampingan hukum. Tak berhenti di situ, Jane juga mendesak agar Kepala BAIS TNI ikut diperiksa untuk menelusuri kemungkinan adanya jalur komando dalam peristiwa ini.

BACA JUGA:Iran-Israel Terus Memanas, Prabowo Ajak Damai Tapi Ogah Ikut Blok

"Kami juga meminta keamanan para pelaku lapangan dipastikan aman dari kemungkinan ancaman pihak-pihak yang berniat melakukan upaya merusak dan menghalangi penyidikan," ujarnya.

Di tengah penyelidikan, muncul perbedaan data antara kepolisian dan militer. Polda Metro Jaya sebelumnya merilis dua inisial pelaku, yakni BHC dan MAK. Namun, aparat juga menyebut jumlah pelaku bisa lebih dari empat orang.

Sementara itu, dari kubu militer, menyebut ada empat prajurit yang sudah diamankan. "Empat tersangka sudah kita amankan di Puspom TNI untuk dilakukan pendalaman ke tingkat penyidikan," kata Yusri.

Perbedaan ini memantik tanda tanya. Kontras bersama koalisi masyarakat sipil mendesak verifikasi oleh lembaga independen seperti Komnas HAM dan mendorong pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta.

Disiram Cairan Korosif, Luka Lebih dari 20 Persen

Peristiwa penyerangan terjadi pada Kamis malam, 12 Maret 2026, di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Andrie diserang oleh orang tak dikenal dengan cara menyiramkan cairan kimia korosif ke tubuhnya. Luka yang dialami tidak ringan.

Catatan medis menyebut, korban mengalami luka bakar lebih dari 20 persen, dengan bagian tubuh yang terdampak mulai dari lengan, dada, wajah hingga mata. Koalisi sipil menduga kuat, serangan ini bukan kejadian acak.

Sebelum diserang, Andrie diketahui aktif menyuarakan kritik, termasuk soal isu remiliterisasi dan uji materi Undang-Undang TNI. Ia bahkan sempat mengikuti rekaman siniar bertema militerisme di kantor YLBHI, beberapa saat sebelum kejadian.

BACA JUGA:Anggaran MBG hingga Kopdes Merah Putih Tak Dipotong Pemerintah di Tengah Efisiensi

Tak hanya itu, Andrie juga menerima serangkaian teror. Dalam kurun 9 hingga 11 Maret 2026, ia dihubungi delapan nomor tak dikenal. Sebagian nomor tak teridentifikasi, sementara lainnya terindikasi berasal dari aplikasi pinjaman daring dan penipuan.

Teror terhadap Andrie bukan hal baru. Setahun sebelumnya, saat polemik revisi UU TNI mencuat, ia termasuk yang paling vokal menolak.

Ia juga pernah mendatangi rapat tertutup pembahasan revisi UU TNI di Hotel Fairmont. Usai aksi tersebut, teror meningkat, termasuk lalu lalang kendaraan taktis TNI di sekitar kantor Kontras.

Kasus ini kini bukan sekadar soal kekerasan terhadap aktivis. Yang dipertaruhkan lebih besar, apakah ini murni aksi kriminal biasa atau ada jejak kekuasaan di belakangnya. Kontras sudah memberi sinyal keras. Tinggal sekarang, aparat berani atau tidak menelusuri sampai ke atas.

Kategori :