Sekolah Perempuan Dibom, Iran Ancam Balasan atas Serangan Israel dan AS

Minggu 01-03-2026,12:59 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan negaranya tidak akan tinggal diam setelah puluhan siswi sekolah dasar tewas akibat serangan udara yang dikaitkan dengan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Februari 2026. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan dan kemarahan publik di Iran atas jatuhnya korban anak-anak.

"Demi Allah. Kami tak akan membiarkan begitu saja," tegas Abbas Araghchi, dikutip dari Al Jazeera, Minggu 01 Maret 2026.

Serangan terjadi pada Sabtu pagi ketika serangkaian serangan udara menghantam wilayah selatan Iran. Salah satu bom dilaporkan mengenai sekolah dasar khusus perempuan di Kota Minab, Provinsi Hormozgan. Bangunan pendidikan itu disebut menjadi lokasi dengan jumlah korban terbanyak dalam insiden tersebut.

Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan sedikitnya 51 siswi meninggal dunia akibat serangan itu. Araghchi menyebut seluruh korban sebagai anak-anak yang tidak bersalah dan menilai serangan tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

Laporan lain dari kantor berita Mehr menyebut serangan tambahan juga terjadi di wilayah timur Teheran. Sebuah sekolah di kawasan tersebut turut terkena hantaman udara. Sedikitnya dua siswi dilaporkan meninggal dunia dalam kejadian terpisah itu.

BACA JUGA:Prabowo Siap Terbang ke Teheran, Indonesia Ambil Peran Redam Konflik Timur Tengah

Seorang jurnalis yang melaporkan langsung dari Teheran menggambarkan situasi yang berkembang setelah serangan terhadap fasilitas pendidikan tersebut. Ia menyoroti meningkatnya jumlah korban serta perdebatan mengenai sasaran operasi militer yang dilakukan.

“Ada laporan baru yang mengkonfirmasi bahwa jumlah orang yang tewas dalam serangan itu kini telah melampaui 40 orang. Itu adalah target sipil, dan itu adalah salah satu target yang mungkin benar-benar menjadi masalah terkait kampanye oleh Amerika dan Israel, yang mengatakan bahwa mereka hanya menargetkan target militer dan mereka mencoba untuk menghukum rezim, bukan rakyat Iran."

Ia menambahkan bahwa insiden tersebut berpotensi memperkuat narasi pemerintah Iran mengenai pelanggaran hukum internasional. Menurutnya, korban sipil akan menjadi sorotan utama dalam respons diplomatik Teheran terhadap Washington dan Tel Aviv.

“Presiden Trump telah berjanji kepada rakyat Iran bahwa bantuan akan datang kepada mereka, tetapi sekarang kita melihat korban sipil; itu adalah sesuatu yang akan ditekankan oleh pemerintah Iran sebagai kasus pelanggaran hukum internasional dan agresi terhadap rakyat Iran,” tambahnya.

Pemerintah Iran sebelumnya telah mencatat dampak besar dari konflik bersenjata yang berlangsung pada pertengahan 2025. Data Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran Iran menunjukkan ribuan warga sipil tewas maupun terluka selama perang selama 12 hari antara Amerika Serikat dan Israel pada Juni tahun lalu.

BACA JUGA:Trump Umumkan Serangan ke Iran, Dua Target Utama Mulai Terungkap

Konflik tersebut juga menyebabkan kerusakan luas pada infrastruktur publik, termasuk fasilitas layanan dasar dan bangunan sipil.

Serangan terbaru terhadap sekolah memperpanjang daftar korban sipil dalam rangkaian konflik yang belum menunjukkan tanda mereda. Pemerintah Iran menilai kejadian itu akan menjadi isu penting dalam upaya diplomasi internasional mereka, terutama terkait tuduhan agresi dan pelanggaran terhadap hukum perang.

Kategori :