JAKARTA, PostingNews.id — Menteri Agama Nasaruddin Umar akhirnya angkat suara soal polemik penggunaan jet pribadi yang ramai dibicarakan di media sosial. Ia menegaskan kehadirannya dalam penerbangan tersebut semata untuk memenuhi undangan keluarga dalam peresmian sebuah madrasah, bukan dalam konteks hubungan kedinasan.
Saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu malam, 18 Februari 2026, Nasaruddin menceritakan undangan itu datang tanpa dirinya mengetahui fasilitas transportasi yang disiapkan. Ia mengaku hanya diminta hadir untuk meresmikan lembaga pendidikan keagamaan.
“Tiba-tiba pesawatnya seperti itu. Masa saya tidak datang. Sudah,” kata Nasaruddin.
Ketika disinggung apakah penggunaan fasilitas tersebut bisa dikategorikan sebagai gratifikasi, ia menjawab singkat dan tidak memperpanjang perdebatan. “Tidak tahu, terserah,” ujarnya.
Ia menegaskan pihak yang mengundangnya tidak memiliki hubungan resmi dengan Kementerian Agama. Menurut dia, relasi yang terbangun murni hubungan kekeluargaan.
BACA JUGA:Transjakarta Modifikasi Rute 4D, 6M, 9H, dan 11B, Berlaku Mulai 21 Februari 2026
“Apa gratifikasi. Dia tidak ada hubungan resmi dengan kita,” kata dia.
Nasaruddin juga menjelaskan kedekatan personal itu berakar dari hubungan keluarga di Takalar, Sulawesi Selatan. Ia menyebut pihak pengundang masih memiliki keterkaitan keluarga dengannya.
“Istrinya itu kan keluarga. Jadi hubungan saya kekeluargaan. Jadi keluarga yang mengundang saya untuk meresmikan pondoknya. Masa saya tidak datang,” ujarnya.
Ia bahkan menyinggung asal-usul keluarga yang sama di daerah tersebut. “Dia itu orang Takalar. Paman saya juga di sana, di Takalar itu. Jadi keluarga.”
Saat kembali ditanya apakah ia keberatan bila publik tetap menilai penggunaan fasilitas itu sebagai gratifikasi, ia menjawab tidak mempermasalahkannya. “Iya. Kalau keluarga sih tidak ada.”
BACA JUGA:Penumpang MRT, LRT, KRL Diizinkan Berbuka Puasa di Kereta, Ini Aturannya
Peresmian di Takalar dan Jejak Jet Pribadi
Sebelumnya, Nasaruddin menghadiri peresmian Gedung Balai Sarkiah di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, pada Ahad, 15 Februari 2026. Gedung itu merupakan fasilitas pendidikan dan keagamaan yang dibangun oleh Yayasan Oesman Sapta Odang.
Acara peresmian dihadiri Oesman Sapta Odang beserta keluarga, Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Sulawesi Selatan, serta sekitar 200 tokoh agama dan masyarakat setempat.