Bagi orang dengan kadar zat besi rendah, kebiasaan minum teh secara berlebihan berisiko memperburuk kondisi tersebut.
“Teh menghambat penyerapan zat besi berlaku apabila mengonsumsi teh terlalu banyak atau terlalu kental. Namun, kalau hanya secukupnya masih aman,” jelas Ali.
Memicu lonjakan gula darah
Ahli gizi Tan Shot Yen juga tidak merekomendasikan es teh manis sebagai minuman utama saat berbuka, terutama jika menjadi kebiasaan harian. Menurut dia, persoalan utama terletak pada kandungan gula tambahan.
“Buat buka puasa, orang kita mustahil minum teh tanpa gula, nah gulanya ini yang tidak baik,” ujarnya dikutip 03 Maret 2025.
Asupan gula yang tinggi setelah berpuasa dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat. Kondisi ini kerap diikuti rasa lemas setelahnya dan berisiko menimbulkan dampak buruk bila berlangsung dalam jangka panjang.
Dapat menimbulkan mual
Selain itu, teh juga dapat memicu rasa tidak nyaman pada sebagian orang. Konsumsi dalam jumlah besar atau saat perut masih kosong berpotensi menimbulkan mual.
Efek ini berkaitan dengan kandungan tanin yang bersifat astringen. Senyawa tersebut dapat mengiritasi lapisan saluran pencernaan sehingga memunculkan keluhan seperti mual atau sakit perut.
Pada individu yang lebih sensitif, gejala bahkan bisa muncul hanya setelah mengonsumsi satu hingga dua cangkir teh atau sekitar 240 hingga 480 mililiter.
Atas pertimbangan tersebut, Tan menyarankan agar minuman pertama saat berbuka adalah air putih. Tubuh membutuhkan cairan yang mudah diserap setelah berpuasa selama belasan jam.
“Yang paling mudah diserap tubuh tanpa merugikan tentu air. Dingin, hangat, atau suhu ruang tidak masalah. Air putih adalah perehidrasi terbaik,” tuturnya.