CEO Microsoft Sebut Gelombang AI Ancam Pekerjaan Profesional, Industri Mulai Berubah

Senin 16-02-2026,10:37 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kembali memantik perdebatan soal masa depan pekerjaan kantoran. Teknologi ini disebut-sebut akan mengubah secara drastis cara kerja profesional kerah putih dalam waktu dekat.

CEO AI Microsoft, Mustafa Suleyman, memperkirakan perubahan tersebut tidak lagi berada dalam jangka panjang. Dalam wawancara dengan Financial Times, ia menyebut model AI kini mendekati kemampuan setara manusia dalam menjalankan berbagai tugas profesional.

"Jadi pekerjaan kerah putih di mana Anda duduk di depan komputer, baik sebagai pengacara, akuntan, manajer proyek, atau staf pemasaran, sebagian besar tugas tersebut akan sepenuhnya diotomatisasi oleh AI dalam 12 hingga 18 bulan ke depan," kata Suleyman yang dikutip dari Futurism, Senin 16 Februari 2026.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa AI akan mengguncang pasar tenaga kerja global. Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah peluncuran agen AI baru bernama Claude Cowork dari Anthropic.

Kehadiran teknologi itu sempat memicu aksi jual besar di pasar saham, menyusul kekhawatiran investor terhadap potensi otomatisasi pekerjaan profesional, termasuk sektor hukum.

BACA JUGA:Jangan Ketipu! Inilah Batasan 'Mode Samaran' yang Bikin Data Lo Tetap Bocor

Suleyman menilai tanda-tanda otomatisasi sebenarnya sudah terlihat jelas, terutama di bidang rekayasa perangkat lunak. Ia mengatakan banyak insinyur software kini mengandalkan sistem pengkodean berbantuan AI dalam proses produksi.

"Banyak insinyur software melaporkan sekarang menggunakan pengkodean berbantuan AI untuk sebagian besar produksi kode mereka," ujar Suleyman.

Perubahan tersebut, menurut dia, membuat peran manusia ikut bergeser. Para insinyur tidak lagi fokus pada penulisan kode dasar, melainkan pada pekerjaan yang lebih strategis. Mereka kini lebih banyak melakukan debugging, riset mendalam, merancang arsitektur sistem, hingga memastikan produk siap masuk tahap produksi.

"Jadi ini adalah hubungan sangat berbeda dengan teknologi tersebut. Dan itu terjadi dalam enam bulan terakhir," sebutnya.

Fenomena penggunaan alat pengkodean berbasis AI memang semakin meluas. Suleyman bahkan mengklaim lebih dari seperempat kode yang dihasilkan programmer saat ini melibatkan bantuan AI. Meski begitu, kualitas hasil kerja teknologi tersebut masih menjadi perdebatan.

BACA JUGA:Memori HP Penuh Padahal Galeri Kosong? Ternyata Ini Biang Keroknya, Simak Cara Bersihinnya Biar Gak Lemot!

Sejumlah studi menunjukkan AI belum konsisten menyelesaikan tugas umum yang lazim ditemui dalam pekerjaan jarak jauh maupun pekerjaan administrasi kantor. Dalam banyak kasus, hasil kerja AI tetap membutuhkan verifikasi manusia secara berulang.

Efektivitas ekonomi dari adopsi AI juga belum sepenuhnya terbukti. Beberapa penelitian menyimpulkan penggunaan AI tidak otomatis meningkatkan produktivitas perusahaan. Dalam situasi tertentu, teknologi ini justru memperlambat alur kerja karena pekerja harus memeriksa ulang hasil AI hingga dua atau tiga kali sebelum dapat digunakan.

Alih-alih meringankan pekerjaan, implementasi AI juga berpotensi meningkatkan intensitas kerja. Karyawan dapat menghadapi beban tugas yang lebih besar karena perusahaan berharap efisiensi meningkat. Kondisi ini berisiko memicu kelelahan mental dan penurunan kualitas hasil kerja.

Kategori :