POSTINGNEWS.ID --- Pernah nggak sih, lo lagi capek-capeknya curhat, eh malah dibalas sama kalimat "Ah, lo mah mending, di luar sana masih banyak yang lebih susah"?
Niatnya mungkin mau ngajak bersyukur, tapi kok rasanya malah makin sesek? Bukannya merasa tenang, lo malah jadi merasa bersalah karena sudah berani merasa sedih.
Para ahli psikologi punya nama buat fenomena ini: Toxic Positivity. Ini adalah kondisi di mana emosi negatif lo dipaksa bungkam demi terlihat kuat dan selalu positif.
Kenapa Membandingkan Penderitaan Itu Nggak Pernah Valid?
Lo harus paham kalau rasa sakit itu sifatnya subjektif banget dan sangat personal. Apa yang menurut orang lain sepele, bisa jadi gunung beban buat mental lo saat ini.
Membandingkan nasib lo sama orang lain itu nggak bakal bikin luka lo sembuh. Sebaliknya, saat perasaan lo dikecilkan, emosi itu nggak hilang, tapi cuma numpuk di bawah karpet.
Google sendiri makin selektif soal konten kesehatan mental (YMYL). Itulah kenapa validasi perasaan itu krusial, bukan sekadar membanding-bandingkan nasib yang nggak ada habisnya.
BACA JUGA:Viral Cancel Culture: Tren Media Sosial yang Bisa Mengguncang Kesehatan Mental Seseorang
Bahaya Memendam Emosi: Bom Waktu buat Kesehatan Mental
Memaksa diri buat terus "oke" padahal lagi hancur itu berbahaya banget. Lo jadi merasa nggak berhak buat mengeluh atau sekadar merasa lelah dengan keadaan.
Dampaknya nggak main-main, mulai dari stres berat, gangguan kecemasan, sampai munculnya gejala psikosomatis. Tubuh lo bisa ikut sakit cuma karena hati lo nggak didengar.
Ingat, rasa sedih dan rasa syukur itu bisa jalan barengan, lho. Lo bisa tetap bersyukur atas hidup lo, tapi tetap mengakui kalau hari ini lo lagi merasa nggak baik-baik saja.
BACA JUGA:Mental Kena Mental! Ini 5 Cara Jitu Lawan Cyberbullying Biar Nggak Depresi
Cara Jadi Pendengar yang "Mahal" dan Berempati
Langkah pertama buat sehat secara mental adalah belajar memvalidasi perasaan diri sendiri. Sadari kalau merasa sedih itu manusiawi dan sama sekali bukan tanda kelemahan.
Kalau ada teman yang curhat, lo nggak perlu jadi pahlawan kesiangan yang kasih nasihat klise. Cukup hadir dan dengerin mereka tanpa harus membandingkan nasib siapa yang paling tragis.
Kehadiran yang tulus jauh lebih menyembuhkan daripada seribu kalimat "sabar ya". Yuk, mulai bangun ruang aman buat diri sendiri dan orang-orang terdekat buat jujur sama emosinya.