Dukungan dari Lintas Iman
Suara dukungan juga datang dari tokoh nonmuslim yang hadir dalam forum tersebut. Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia Sulawesi Selatan, Dr. Ir. Yonggris Lao, menyampaikan apresiasi terhadap sikap inklusif yang ditunjukkan Ahmadiyah.
Ia menilai komunitas Ahmadiyah mampu menghadirkan cara beragama yang rasional dan tidak konfrontatif. Pendekatan seperti itu, menurutnya, sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Yonggris juga menyinggung pentingnya strategi baru dalam menyampaikan pesan toleransi, terutama kepada generasi muda. Generasi Z, kata dia, lebih tertarik pada aksi sosial nyata ketimbang perdebatan teologis yang kaku.
Dari kalangan Kristen, Direktur Oase Intim, Christina J. Hutubessy, menekankan pentingnya teologi kemanusiaan sebagai jembatan lintas iman.
“Semua agama memiliki potensi besar untuk menghargai martabat manusia. Tugas kita adalah memperbanyak aktor strategis dan narasi positif untuk melawan intoleransi,” ungkap Christina.
Rekomendasi Perdamaian dari Makassar
Diskusi panjang selama kegiatan melahirkan sejumlah rekomendasi penting bagi penguatan perdamaian nasional. Panitia berharap gagasan yang lahir dari Makassar ini bisa menjadi sumbangan berarti bagi Indonesia.
Melalui bedah buku tersebut, Jemaat Ahmadiyah Indonesia ingin menegaskan bahwa perbedaan tafsir dan keyakinan seharusnya dipandang sebagai kekayaan intelektual bangsa. Perbedaan, menurut mereka, bukan alasan untuk saling menyingkirkan.
Mereka berharap memasuki abad kedua keberadaan Ahmadiyah di Indonesia, komunitas ini dapat semakin berperan sebagai katalisator solidaritas di akar rumput. Kolaborasi inklusif dengan berbagai kelompok masyarakat dianggap sebagai kunci utama.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama. Para peserta memanjatkan harapan agar Negara Kesatuan Republik Indonesia senantiasa diberkahi kedamaian dan harmoni di tengah keberagaman warganya.