Di Balik Kejahatan Seksual Jeffrey Epstein, Mimpi Mengerikan tentang Pabrik Manusia

Sabtu 07-02-2026,16:37 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Dokumen rahasia yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada awal 2026 membuka sisi lain dari kejahatan Jeffrey Epstein.

Arsip itu memperlihatkan bahwa jaringan kekerasan seksual yang ia bangun tidak berdiri sendiri. Di baliknya, ada ambisi pribadi yang jauh lebih ekstrem dan berbahaya.

Epstein disebut terobsesi pada gagasan menciptakan generasi manusia unggul. Ia membayangkan sebuah proyek rekayasa genetika yang memadukan teknologi kecerdasan buatan dengan manipulasi reproduksi.

Dalam skema itu, tubuh perempuan diposisikan semata sebagai sarana produksi biologis. Unsur persetujuan dan kemanusiaan dikesampingkan.

Rencana tersebut mencakup upaya menghamili banyak perempuan di sebuah lahan luas miliknya di New Mexico. Anak-anak yang lahir diharapkan membawa DNA Epstein sebagai fondasi generasi baru yang ia anggap superior.

BACA JUGA:Billie Eilish Dikecam Usai Pidato Grammy, Hadapi Tuntutan Soal Rumah di Tanah Adat

Dokumen menyebut ide itu sebagai bentuk obsesi pribadi yang berkembang seiring kekuasaannya. Gagasan tersebut mengingatkan pada praktik eugenika yang pernah dijalankan di Eropa pada abad ke-20. Kesamaannya terlihat jelas dengan program Lebensborn yang digagas rezim Nazi di bawah Adolf Hitler.

Program itu menjadi simbol bagaimana ide rasial dapat berubah menjadi kebijakan negara yang merusak.

Berdasarkan catatan United States Holocaust Museum, organisasi elite SS mendirikan Lebensborn pada 1935. Program tersebut dipimpin oleh Heinrich Himmler. Tujuannya adalah memperbanyak keturunan yang dianggap ras Arya murni.

Dalam praktiknya, anggota SS ditekan menjadi sumber keturunan masa depan. Perempuan yang terlibat harus membuktikan silsilah ras mereka hingga beberapa generasi.

Saat Perang Dunia II, Nazi bahkan menculik anak-anak dari wilayah pendudukan yang dinilai memenuhi kriteria fisik Arya. Anak-anak itu dipisahkan dari keluarga dan identitas aslinya dihapus. Sekitar 10.000 anak tercatat menjadi korban eksperimen sosial tersebut.

BACA JUGA:KPK OTT Oknum Impor Ilegal di Bea Cukai, Bongkar cara Barang Palsu Masuk Bebas ke Indonesia

Jejak sejarah itu memberi konteks mengapa obsesi Epstein dinilai berbahaya. Ide serupa kembali muncul dalam bentuk yang lebih modern. Teknologi dijadikan dalih untuk mengulang kekerasan struktural terhadap tubuh dan kehidupan manusia.

Kasus Epstein juga menyingkap kegagalan sistem hukum dalam menghadapi pelaku berpengaruh. Perkara ini tidak berhenti pada kejahatan individu. Ia memperlihatkan bagaimana kekuasaan dan jaringan elite dapat melunakkan penegakan hukum.

Seorang senator Amerika Serikat, Ben Sasse, pernah mengecam kesepakatan hukum Epstein pada 2008. Ia menyebutnya sebagai “kegagalan sistem yang menjijikkan.” Pernyataan itu kembali relevan ketika dokumen terbaru dibuka ke publik.

Kategori :