JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Kram atau pegal di kaki kerap datang tanpa aba-aba saat pesawat mengudara. Keluhan itu lazim, terutama bila ruang kaki sempit dan tubuh lama tak bergerak.
Seorang dokter spesialis paru dan perawatan kritis, Dr. Neena Chandrasekaran, mengingatkan kebiasaan yang sering dianggap sepele. Banyak penumpang menyilangkan kaki ketika duduk. Menurut dia, posisi itu justru paling berisiko.
"Posisi terburuk untuk meletakkan kaki adalah menyilang," kata Dr. Neena, dikutip Sabtu 07 Februari 2026.
Kaki yang disilangkan membuat pembuluh darah saling menekan. Aliran darah melambat. Dalam kondisi tertentu, tekanan itu dapat memicu pembekuan darah.
"Anda berisiko lebih tinggi terkena pembekuan darah saat berada di udara. Tekanan barometrik memicu peradangan di tubuh kita, dan ini bisa menyebabkan pembekuan darah, terutama di kaki," ujarnya.
BACA JUGA:BPJS PBI Mati Mendadak, Warga Depok–Bekasi Terancam Cuci Darah hingga Terapi Anak
Tekanan udara di kabin berbeda dengan kondisi di permukaan tanah. Perbedaan ini terasa saat tubuh diam terlalu lama. Risiko serupa juga muncul ketika seseorang menempuh perjalanan darat jarak jauh tanpa jeda.
Untuk menekan risiko, Dr. Neena menyarankan langkah sederhana. Gunakan stoking kompresi. Jangan duduk membeku sepanjang penerbangan. Tubuh perlu digerakkan agar sirkulasi tetap lancar.
"Kalau bepergian, terutama ke luar negeri. Gerakkan tubuh supaya aliran darah lancar. Bisa berjalan di lorong atau sekadar melakukan gerakan kecil kaki Anda di bawah kursi," katanya.
Selain posisi duduk, waktu tidur di pesawat juga berpengaruh pada kondisi tubuh. Sejumlah ahli menyarankan tidur siang singkat. Tidur sebentar namun tepat waktu membantu menjaga kewaspadaan.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, tentukan waktu tidur dengan cermat. Kedua, batasi durasinya. Tidur singkat terbukti membantu fokus dan kesiagaan.
BACA JUGA:Kabar Baik Jelang Lebaran, Tiket Pesawat Diskon hingga 18 Persen
Sebaliknya, tidur terlalu lama bisa berbalik merugikan. Tubuh dapat mengalami inersia tidur. Kondisi ini ditandai rasa mengantuk dan linglung setelah bangun. Efeknya bisa bertahan hingga satu jam.
Dengan duduk yang lebih sadar dan tidur yang terukur, perjalanan udara dapat dijalani dengan tubuh yang lebih nyaman. Risiko kram berkurang. Badan tetap segar saat mendarat.