Neraka Judi Online di Kamboja, Cerita Warga Bengkulu Disetrum dan Dipaksa Jadi Scam

Minggu 25-01-2026,12:26 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

Masalah muncul ketika para korban tidak memiliki kemampuan mengoperasikan komputer atau menjalankan perintah dari jaringan pelaku.

“Mereka dipaksa menjadi scam judi online. Karena kebanyakan mereka tidak mengerti komputer akhirnya mereka disiksa dan disetrum bahkan makan hanya diberi sekali dalam sehari,” ujar Iman.

Kekerasan fisik dan tekanan mental terus dialami. Selain disetrum, mereka juga mengalami pembatasan makan dan pengawasan ketat.

Korban Kabur dan Minta Perlindungan

Tak tahan dengan perlakuan tersebut, keempat warga Bengkulu itu akhirnya nekat melarikan diri. Mereka berhasil keluar dari tempat kerja dan menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh.

Saat ini, mereka berada dalam perlindungan KBRI. Namun, proses pemulangan belum bisa dilakukan karena keterbatasan biaya dan administrasi.

BACA JUGA:Indonesia Catat Banyak Pekerja Lembur Lebih dari 49 Jam, Gorontalo Paling Parah Versi BPS

Keluarga Minta Bantuan Pemda

Iman menyebut keluarga korban sangat berharap ada campur tangan pemerintah daerah. Mereka meminta perhatian Gubernur Bengkulu, Wakil Gubernur Bengkulu, serta Wali Kota Bengkulu agar membantu proses kepulangan.

“Kami bersama keluarga korban memohon bantuan Bapak Gubernur Bengkulu dan Wakil Gubernur Bengkulu, wali kota untuk memulangkan empat warga Kota Bengkulu yang saat ini berada di KBRI Phnom Penh, Kamboja,” kata Iman.

Kasus ini kembali menegaskan maraknya praktik perdagangan orang dengan modus penawaran kerja ke luar negeri. Banyak korban tergiur janji penghasilan tinggi, namun justru berakhir dalam jeratan eksploitasi dan kekerasan di negara tujuan.

Kategori :