Saling Ancam Iran dan Amerika, Bayang-bayang Perang Skala Besar

Kamis 22-01-2026,09:28 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat. Kedua negara saling melontarkan ancaman keras yang membuka kemungkinan konflik berskala besar.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran akan dihapuskan dari muka bumi bila Teheran berhasil membunuh dirinya. Ancaman itu disampaikan Trump dalam wawancara yang ditayangkan pada Selasa, 20 Januari, waktu setempat.

"Saya memiliki instruksi yang sangat tegas. Apa pun yang terjadi, mereka akan memusnahkan mereka (Iran-red) dari muka bumi," kata Trump menanggapi pertanyaan mengenai ancaman Iran terhadap keselamatan dirinya.

Pernyataan tersebut memicu respons dari Teheran. Iran menyebut tidak akan menahan diri bila pemimpin tertingginya menjadi sasaran.

Juru bicara Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, mengatakan Trump memahami konsekuensi jika ancaman itu berbalik arah. Ia menyampaikan pernyataan itu kepada media pemerintah Iran pada Selasa, 20 Januari.

BACA JUGA:Puluhan Kali Bolos dari Persidangan, Anwar Usman Protes ke Ketua MK Data Absennya Diungkap ke Publik

"Trump tahu bahwa jika tangan agresi diulurkan ke arah pemimpin kami, kami tidak hanya akan memutus tangan itu, dan ini bukan sekadar slogan," kata Shekarchi, seperti dilaporkan AFP pada Rabu, 21 Januari 2026.

Ia melanjutkan ancaman tersebut dengan nada lebih keras. Menurutnya, Iran siap memperluas dampak konflik bila diserang.

"Tapi kami akan membakar dunia mereka dan tidak akan memberi mereka tempat berlindung yang aman di wilayah ini," ujarnya.

Ancaman Trump terhadap Iran bukan kali pertama disampaikan. Setahun sebelumnya, tak lama setelah kembali menduduki Gedung Putih, Trump juga mengeluarkan peringatan serupa. Saat itu ia menegaskan Iran akan dimusnahkan jika berani melancarkan serangan terhadap dirinya.

Di tengah meningkatnya ketegangan eksternal, Iran masih bergulat dengan gejolak di dalam negeri. Negara itu baru saja diguncang gelombang protes anti-pemerintah yang meluas.

BACA JUGA:Ironis! Gaji Guru Kalah Sejahtera dari Sopir MBG, Ahli Pendidikan Soroti Potensi Kesenjangan Sosial

Aksi tersebut disebut sebagai demonstrasi terbesar sejak Revolusi Islam 1979. Protes dipicu oleh tekanan ekonomi yang kian berat dan melemahnya mata uang nasional.

Sejumlah organisasi hak asasi manusia masih berupaya memverifikasi jumlah korban tewas dalam kerusuhan tersebut. Kelompok Human Rights Activists News Agency mencatat lebih dari 4.000 kematian telah dikonfirmasi.

Demonstrasi massal mulai merebak sejak Desember lalu. Warga menuntut bantuan sosial di tengah kesulitan ekonomi yang memburuk. Nilai tukar mata uang Iran saat itu mencapai titik terendah baru di bawah kepemimpinan ayatollah berusia 86 tahun.

Kategori :