JAKARTA, PostingNews.id — Kita ini suka menyebut diri manusia modern. Nama resminya Homo sapiens. Kedengarannya gagah dan penuh wibawa. Istilah itu datang dari bahasa Latin. Homo artinya manusia, sapiens berarti mengetahui, berakal, atau bijaksana. Kalau disederhanakan, maknanya manusia bijak. Sebuah gelar yang diberikan manusia kepada dirinya sendiri, tanpa perlu pengesahan siapa pun.
Padahal, kalau ditarik ke belakang, Homo sapiens bukan satu-satunya manusia yang pernah menginjakkan kaki di Bumi. Jauh sebelum kita sibuk membangun kota dan menumpuk data, ada manusia-manusia purba yang lebih dulu hidup. Ada yang dianggap leluhur langsung, ada pula yang diposisikan sebagai kerabat jauh yang pernah berbagi ruang dan waktu, lalu menghilang.
Menariknya, ketika manusia modern mempelajari jejak para pendahulunya, cara kita memberi nama terasa sangat khas. Manusia purba hampir selalu dinamai berdasarkan kata kerja atau kemampuan fisik. Ada Homo erectus, manusia yang berdiri tegak, karena ia dianggap sebagai jenis pertama yang berjalan dengan dua kaki secara penuh. Ada Homo habilis, manusia terampil, karena peninggalannya menunjukkan kemampuan awal menggunakan alat sederhana.
Nama-nama itu seperti catatan singkat tentang apa yang mereka lakukan dan bagaimana tubuh mereka bekerja. Kita menoleh ke masa lalu dan menilai mereka dari apa yang tampak di tulang dan perkakas. Namun ketika tiba giliran kita sendiri, manusia modern memilih jalur berbeda. Kita tidak menamai diri berdasarkan cara berjalan atau alat yang digunakan, melainkan dengan kata sifat. Kita mendefinisikan diri lewat akal budi dan kebijaksanaan.
BACA JUGA:KUHAP Baru Berlaku, Eks Jaksa Agung Marzuki Darusman Bunyikan Alarm Otoritarianisme
Istilah Homo sapiens pertama kali dicetuskan oleh Carl Linnaeus pada 1758 lewat karyanya Systema Naturae. Zaman itu bukan zaman sembarangan. Eropa sedang mabuk kemajuan. Ilmu pengetahuan melesat, seni berkembang, teknologi merangkak cepat. Abad Pencerahan membuat akal manusia ditempatkan di singgasana tertinggi. Maka wajar bila manusia kala itu merasa pantas menyematkan label bijaksana pada dirinya sendiri.
Nama itu bertahan hingga hari ini. Namun pertanyaan yang terus mengintai adalah apakah sebutan itu masih layak disandang.
Sejarah awal Homo sapiens justru jauh dari kesan berkuasa. Manusia purba hidup dalam kelompok kecil, berpindah-pindah, berburu dan meramu. Alam bukan objek yang ditaklukkan, melainkan kekuatan yang harus dihormati. Manusia menyesuaikan diri dengan musim, cuaca, dan ketersediaan pangan. Hidup adalah soal bertahan, bukan menaklukkan.
Perubahan besar datang sekitar sepuluh ribu tahun sebelum Masehi. Manusia mulai menetap. Revolusi pertanian mengubah segalanya. Kita tidak lagi sekadar mencari makan, tetapi mulai memproduksinya. Ladang dibuka, hewan dijinakkan, permukiman dibangun. Untuk pertama kalinya, Homo sapiens merasa memegang kendali.
BACA JUGA:Sisa Bencana Jadi Sumber Manfaat, Prabowo Izinkan Lumpur Dijual Daerah ke Swasta
Beberapa ribu tahun kemudian, sekitar tiga ribu tahun sebelum Masehi, kebutuhan dasar sudah relatif terpenuhi. Ruang berpikir melebar. Kelompok kecil tumbuh menjadi peradaban dan negara. Bahasa diperkaya, tulisan diciptakan, hukum disusun. Bangunan megah berdiri bukan hanya sebagai tempat berlindung, tetapi sebagai simbol kekuasaan dan identitas. Piramida bukan sekadar batu yang ditumpuk, melainkan pernyataan siapa yang berkuasa dan siapa yang tunduk.
Titik balik paling menentukan datang pada Revolusi Industri sekitar pertengahan abad ke-18. Ironisnya, inilah periode ketika istilah manusia bijak resmi diperkenalkan. Mesin-mesin lahir dan mengubah cara hidup. Malam dikalahkan oleh listrik, dingin dilawan pemanas, jarak dipangkas oleh mesin uap, pesan melesat lewat kabel telegraf. Manusia merasa tak lagi terikat oleh alam. Namun pada saat yang sama, bubuk mesiu dan senjata pemusnah ikut lahir dari rahim kemajuan itu.
Setelah revolusi industri, posisi manusia dan alam berbalik. Alam tidak lagi menjadi penentu, melainkan objek. Selama sesuatu bisa dipikirkan, maka ia harus diwujudkan. Eksploitasi menjadi cara kerja utama. Puncaknya terlihat jelas sejak dekade 1950-an, sebuah fase yang sering disebut zaman modern dan masih kita jalani sampai sekarang.
Paradigma berubah drastis. Jika manusia awal mengambil secukupnya, manusia modern mengambil sebanyak-banyaknya. Keinginan menjadi tak terbatas. Dalam waktu yang relatif singkat, kita telah menggerus separuh tutupan hutan dunia, meningkatkan emisi karbon, mengacaukan iklim, dan mendorong kepunahan massal flora dan fauna. Semua itu dilakukan oleh makhluk yang menyebut dirinya bijaksana.
BACA JUGA:Sejarah Tahun Baru yang Jatuh 1 Januari, Manusia Menentukannya Lewat Politik dan Keyakinan