Gus Yahya Klaim Semua Bisa Dijelaskan, Sayangnya Belum Dikasih Panggung Bicara

Sabtu 29-11-2025,19:00 WIB
Reporter : Andika Prasetya
Editor : Andika Prasetya

JAKARTA, PostingNews.id – Berita soal PBNU masih panjang, dan Gus Yahya tampaknya juga masih punya stamina untuk menahan serangan. Di tengah tudingan soal kedekatan dengan komunitas Israel dan tata kelola keuangan yang menjadi alasan pencopotannya, ia justru pasang badan sambil menyodorkan satu argumen sederhana namun keras kepala ia bisa menjelaskan semua, hanya saja belum diberi panggung.

Ia bilang begitu di tengah riuh kantor PBNU “Saya juga sudah mendengar berbagai hal yang menjadi alasan keberatan tentang saya. Semua bisa saya pertanggungjawabkan, asalkan saya diizinkan untuk memberi penjelasan”. Ringkasnya, versi Gus Yahya konflik ini mandek bukan karena substansi tuduhan, tapi karena ia belum diberi mikrofon. Ia mengulangi “Kalau saya punya penjelasan, selesai semua. Tidak ada masalah yang perlu diperuncing dalam soal ini”.

Masalahnya, Syuriyah sudah mengetuk palu lebih dulu. Rapat harian pada 21 November 2025 meminta Yahya mundur dari kursi Ketua Umum PBNU. Alasannya sudah familiar menghadirkan pemateri pro-Israel Peter Berkowitz dalam forum resmi NU dan sorotan pada pengelolaan finansial organisasi. Yahya menolak menurut, mengumpulkan pengurus wilayah di Surabaya lalu mengajak ulama berkumpul di kantor PBNU. Suhu politik organisasi menanjak cepat, dan Syuriyah menindaklanjuti lewat Surat Edaran yang menyatakan Yahya tak lagi sah memimpin mulai 26 November 2025. Atribut ketua umum tak boleh dipakai, fasilitas jabatan tak boleh disentuh.

Namun Yahya justru membalas dengan langkah manuver. Menurutnya surat edaran itu hanya draf dan tidak memenuhi syarat administratif, sehingga ia tetap merasa masih sah sebagai ketua. Lalu pada 28 November 2025 ia memutar roda organisasi seolah tak terjadi apa-apa Masyhuri Malik digeser dari Ketua PBNU ke Wakil Ketua Umum Saifullah Yusuf turun dari Sekjen ke Ketua PBNU Gudfan Arif dipindahkan dari Bendahara Umum ke Ketua PBNU. Kursi Sekjen kemudian diisi Amin Said Husni dan posisi Bendahara Umum diserahkan kepada Sumantri. Sebuah rotasi besar-besaran yang hanya mungkin dilakukan oleh seseorang yang merasa kursinya belum resmi dipreteli.

BACA JUGA:NasDem Teriak Darurat Nasional, Pemerintah Masih Pegang Payung Sambil Lihat Langit

Pada sisi lain, Yahya juga menutup semua rute penyelesaian kecuali satu ia ingin muktamar. “Bahwa tidak ada jalan keluar selain mari kita kembali bersama-sama untuk menyelenggarakan muktamarnya Jadwalnya tidak lama lagi tidak lama lagi ini cuma tinggal menyelesaikan sejumlah hal teknis saja muktamarnya.” Dalam logikanya, kursi ketua tidak boleh dicabut di tengah periode, dan semua perubahan harus dibawa ke forum permusyawaratan tertinggi. Ia memperingatkan jika prosedur organisasi diacak-acak maka efeknya bisa mengalir sampai ke cabang-cabang bawah “Rusak semua sampai ke bawah bahaya sekali”.

Jadi sampai tahap ini, PBNU tampak seperti dua orang yang sama-sama mengaku memegang remote televisi. Syuriyah bilang Yahya sudah selesai, Yahya tetap menandatangani SK rotasi jabatan. Solusinya menurutnya hanya muktamar yang tampaknya bakal menjadi pertandingan final menentukan siapa yang sah memegang stempel PBNU dan siapa yang hanya sedang memegang papan nama jabatan tanpa listrik.

Kategori :